BisnisDiaryKulinerLifeWorking Mom

Merintis Bisnis Kuliner dengan Status Working Mom Full Time Job

Merintis bisnis sendiri membutuhkan keberanian, selain modal. Lebih dari itu dengan visi yang jelas, insyaallah segala rintangan bisa teratasi. Begini cerita saya memulai bisnis kuliner dengan status masih bekerja full time dan ibu dua anak.

Ada seorang kawan yang nyeletuk begini: “Gila, ya, kamu. Masih kerja full time, ada anak dua, masih sempat jalankan bisnis yang membutuhkan banyak kerja seperti usaha makanan… eh, sekarang malah buka warung, pula? Enggak kewalahan apa gimana?” tanya teman saya itu.

To be honest, ya memang kadangkala kewalahan, hahaha. Yup, saya saat ini memang masih tercatat sebagai karyawan di sebuah perusahaan finansial teknologi di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Saya masuk kerja seperti umumnya orang-orang kantoran, jam 9 to 5. Cuma, bila kebanyakan orang harus datang 5 hari dalam sepekan, saya cukup 4 hari saja. Sisa satu hari, saya remote working dari rumah, biasanya hari Jumat atau Rabu. Hal ini memungkinkan karena pekerjaan saya adalah di bidang kreatif yang sejatinya enggak butuh-butuh amat harus nongol tiap hari di kantor, haha. Dan, pekerjaan saya bisa dilakukan dari mana saja, bahkan di atas kasur 🙂

Dan memang benar, saya juga seorang ibu dua anak, yang dua-duanya masih berusia toddler, di bawah 4 tahun. Di sela-sela waktu itu, saya juga masih menggarap berbagai proyek tulisan sana-sini, baik yang gratis maupun berbayar. Saya juga kudu menyisihkan waktu untuk mengelola blog ini. Ditambah sekarang, mengurus Waroeng Nasi Krawu Yuk Har. My (not so) new baby, hahaha.

Am I being too ambitious? Maybe, hahahah. Well, not really. I have too many dreams, too many passions… and as long as I can make it, then why not?

Seperti yang sudah saya ceritakan di sini, usaha kuliner nasi krawu ini sebenarnya sudah saya (dan suami) rintis sejak Februari 2016. Ketika itu saya tengah cuti lahiran anak kedua yang lahir November tahun sebelumnya. Kami merintisnya lewat online saja ketika itu. Tepatnya melalui Instagram. Sambutannya lumayan meriah. Tapi, kami akhirnya jadi on/off karena hanya mengandalkan pesanan. Ditelan kesibukan yang lain, usaha kuliner online kami bahkan sempat vakum.

Tapi, saya dan suami memiliki mimpi, ingin punya restoran sendiri. Restoran menu Jawa Timuran yang sudah lama terkenal endeus-endeus, gurih pedas maknyus, haha. Kami merasa, kami harus punya offline store dengan sistem yang bagus, sehingga bisnis kuliner kami berkembang dengan serius. Kami sempat mencari-cari ruko yang dekat dengan domisili, tapi belum ada yang sreg ketika itu.

Ada yang sewanya murah, tapi tempatnya meragukan. Di pinggir jalan raya besar, sih. Cuma, sepengamatan saya, kendaraan yang lewat jalan itu, kencang-kencang, haha. Lalu, ada ruko yang lebih dekat lagi dengan rumah kami, dua tingkat, harga sewanya terlalu mahal. Hingga akhirnya, awal tahun lalu, suami saya memberitahu bila ada kios yang ditawarkan di sekitar stasiun Poris, Tangerang. Lokasinya bisa ditempuh jalan kaki dari stasiun KRL, dekat dengan pertigaan menuju kawasan Poris, Tangerang, yang juga punya sentra kuliner. Persis di depan AlfaMidi Poris. Seketika saya langsung sreg, haha. Dan dalam hitungan pekan, alhamdulillah Waroeng Nasi Krawu Yuk Har resmi berdiri.

Bukan ruko yang menjadi jodoh kami, ternyata baru kios, mampunya, wkwkwk. Ukurannya enggak besar, cuma satu lantai lengkap dengan toilet. Cuma muat tiga meja plus meja panjang yang nempel tembok (nyusul kalo ini). Yang penting bersih, yes, hehe.

Saya berbagi tugas dengan suami. Suami yang kebetulan memiliki jam kerja jauh lebih longgar dibandingkan bininya, lincah kesana kemari mengurus: mulai dari pesan gerobak, pesan meja, belanja kursi, hahaha. Kalau peralatan dapur, saya sempatkan belanja di akhir pekan. Nyicil sebutuhnya dulu.

Begini penampakan dalam Waroeng Nasi Krawu Yuk Har, Tangerang:

Kulkas enggak beli baru. Kebetulan di rumah ada kulkas nganggur. Ini kulkas satu pintu yang saya beli dulu saat awal pernikahan, dan saya pensiunkan saat memiliki anak dan butuh stok ASIP banyak sehingga butuh kulkas dua pintu. Alhamdulillah masih berfungsi baik walau udah 5 tahun umur kulkasnya, haha.

Hari Ahad, persis tanggal cantik (aseli, enggak sengaja milih, hihi), 18 Feb 2018 atau 18-02-18, eeaaa, kami resmi membuka kedai kami. Mengundang keluarga saja dahulu, meminta doa restu. Keluarga kakak saya datang lengkap dan bapak ibu mertua.

Alhamdulillah lancar. Kakak saya, yang sudah pengalaman makan asam garam jadi pengusaha (walau bukan pengusaha kuliner), memberi wejangan yang bagus (seperti yang selama sekian puluh tahun ini dia perankan sebagai kakak saya yang tertua). Tentang tantangan berbisnis, perjuangan yang tiada henti, kreativitas yang tiada henti, dan lain sebagainya. Quote yang menarik “Hidup yang tidak ada perjuangannya, ya, enggak layak diperjuangkan”, hahahah.

Setelah itu, kakak saya membuat postingan khusus di Facebook pribadi dia, hahah. Judulnya dahsyat: “Invasi Nasi Krawu Gresik dan Masa Depan Jokowi Tahun 2019” hahhaah. Cek postingan lengkap di sini:

Yah, Nasi Krawu, kekayaan kuliner Gresik, resmi menyapa Tangerang dan masyarakat Jabodetabek per 18 Februari. Semoga menjadi langkah yang berkah, aaamiiin.

Tantangan hari pertama

Hari Jumat, 16 Februari, saya libur kerja karena Imlek. Saya pun berjibaku bersama suami menyiapkan ini itu perintilan kedai. Kami mulai semua dari nol, berdua saja, hihi, romantis, ye. Mulai dari cari pigura untuk hiasan kedai, cetak leaflet, mengurus digital marketingnya, hingga acara masak memasak isi warung, hahaha.

Malam minggu, ketika kami tengah sibuk di dapur menyiapkan dagangan, ketika anak-anak sudah pulas terlelap, suami saya memberikan kejutan pahit. Mendadak karyawan yang sudah berkomitmen bekerja pada kami, minta izin pergi ke luar kota karena urusan keluarga. Di tengah rasa capek penat stres, kabar ini bak bensin yang disiram di atas bara. Kegalauan langsung tampak jelas di wajah suami saya. Feeling saya mengatakan, karyawan ini enggak perlu dilanjut. Bad character. Feeling saya terbukti. Si calon karyawan ini sampai kedai berjalan seminggu pun tak jua kasi kabar. Tanpa penjelasan apa-apa 🙂

Akhirnya, plan B yang jalan. Kebetulan, ART kami pernah bekerja 4 tahun di warung tegal, haha. Ya udah, kami akhirnya minta dia in-charge lebih dulu. Soal SDM ini selalu yang jadi masalah, sih, di mana-mana. Tapi, yang namanya bangun sistem, tentu saja enggak mudah. Apalagi di bisnis yang usianya masih hitungan hari. Bisnis yang berhasil adalah yang mampu menciptakan sistem sehingga tetap bisa berjalan walau ada salah satu komponen (asal bukan yang paling vital), absen.

Dan kami sadar, kami harus banyak investasi di sini. Termasuk dalam membangun kapasitas sumber daya manusia. Kami selalu harus saling mengingatkan, bahwa salah satu niat kami membangun bisnis ini adalah agar bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain yang membutuhkan.

Syukur alhamdulillah, akhirnya kami dapat karyawan baru. Sejauh ini kami masih memakai satu karyawan dulu. Idealnya dua, sih. Tapi, karena kami masih level startup, ya kami jalankan dengan begini dulu. Perlahan tapi pasti, our baby step becoming giant step! Aaamiiin.

Melakoni bisnis kedai makan seperti ini mungkin bukan hal yang baru-baru banget bagi saya. Orangtua saya dulu juga membesarkan kami, lima bersaudara, dengan rezeki dari sebuah warung makan sederhana.

Warung makan orangtua saya, insyaallah penuh barokah. Dari rahim warung inilah, lima sarjana lahir! Bukti bahwa matematika rezeki Gusti Allah enggak bisa dijangkau oleh matematika manusia, walau si manusia sudah bergelar CFP sekalipun, hahahah

Sampai detik inipun, warung itu masih berdiri dan dikelola oleh ibu saya (yang enggan pensiun karena doi memang workoholic, hahaha).

Ibu saya, Hj. Azharoh. Dialah sang “Yuk Har”, sumber resep kedai kami dan inspirasi hidup anak-anaknya 🙂

Walau tidak terlalu asing, namun, bagi saya ini juga relatif baru: nyemplung menginvestasikan uang, tenaga, pikiran, energi, di bisnis riil berbentuk kedai makan. Biasanya saya cuma berani investasi di pasar finansial saja.. bukan investasi, sih, tapi lebih tepat menabung kebutuhan masa depan dengan memutar dana di pasar modal.

Dengan kelahiran kedai makan ini, berarti, sebaran telur saya meluas ke bisnis riil. Alhamdulillah, untuk investasi segala macam ini untuk Waroeng Nasi Krawu Yuk Har, saya enggak pakai duit utang. Enggak berani ngutang, haha. So, here we are, trying to grow our new eggs, semoga bisa tumbuh sehat menetas menjadi anak ayam, besar, makin besar menjadi ayam yang sehat dan menghasilkan telur-telur lain yang banyak, dan seterusnya. Aaamiin.

Untuk sementara ini, memang saya dan suami masih tangani sendiri yang vital. Memasak masih kami handle. Karyawan bantu menjaga kedai dan melayani pelanggan. Saya bagian quality control juga kelola marketing-nya, ahahaha. Gak sia-sia lah saya “nyantri” setahun terakhir di divisi marketing fintech, hahahah.

Lalu, bagaimana saya jalankan tugas saya sebagai ibu dan istri?

Saya tetap memasak untuk keluarga, anak-anak, setiap pagi. Masih menyempatkan nganter Attar ke Playgroup. Untunglah cuma tiga kali seminggu. Walau sekarang, sejak Attar sudah lebih enjoy di Playgroup, dia enggak demanding harus emaknya yang anter, hehe. Pulang kerja, saya masih bermain dengan anak-anak saya, membacakan mereka cerita… unyel-unyelan… mengantar mereka tidur. Kalau kecapean, ya saya ikut bablas tidur.

Kalau masih melek, biasanya saya buka laptop lagi terutama kalau masih ada deadline tulisan. Secara umum enggak ada yang terlalu berubah, sih. Kecuali memang, kadang-kadang saya ajak mereka ke kedai, hehe. Saya biarkan mereka nulis-nulis di papan promo pake kapur, xixixi. Mereka hepi-hepi aja. Punya lahan main baru. “Mama, warung Attar bagus, ya,” kata Attar, suatu ketika. Saya jadi terharu 🙂

Saat saya remote working, saya masih bisa main-main lebih banyak dengan mereka. Mengerjakan kerjaan kantor saat mereka asyik bermain sendiri atau saat mereka tidur. Hubungan saya dengan suami? Ya, makin kompak. Intensitas kami meributkan hal-hal kecil, berkurang banyak, LoL.  It feels like, we’re having our “third baby”, hahahaha.

Yah, semoga saja semua ikhtiar kami membantu tercipta keseimbangan baru kelak, sesuatu ideal yang menjadi visi besar kami sebagai pasangan dan sebagai orangtua, juga sebagai manusia. Aaamiin. Mohon doanya, ya 🙂

Inilah kedai sederhana kami:

Waroeng Nasi Krawu Yuk Har

Alamatnya: Jalan Maulana Hasanuddin Nomer 88D, Kota Tangerang.

Selain melayani dine-in, kami juga bisa dijangkau melalui online. Baik lewat Instagram, Go-Food dan Grab Food (masih proses), juga Tokopedia.

Yuk, mampir kesini dan ngobrol sambil makan sego krawu yang wuenakkkk!

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *