Ngobrol dengan Pak Jahja: Pernah Kelabakan karena Kartu Kredit

Jahja Setiaatmadja pernah kelabakan karena tagihan kartu kredit membengkak, apa yang terjadi? 

Sepanjang perjalanan ketika saya masih menjadi seorang jurnalis di media ekonomi nasional, hampir semua desk peliputan pernah saya cicipi. Mulai isu nasional yang mengharuskan saya berkelana di beberapa pos liputan.

Saya sempat mendapat tugas peliputan, mulai dari DPR, Kementerian sepanjang Gatot Subroto Kuningan. Pernah juga mencicipi liputan di desk Energi dan Tambang walau cuma tiga bulan, disambung ke desk Investasi dan Perbankan. Yang belum pernah saya cicipi sepertinya desk Metro, Hukum dan Istana Presiden.

Di desk terakhir yaitu Investasi dan Perbankan, saya tergolong awet. Mulai dari masih reporter junior, reporter senior, saat magang menjadi Junior Editor atau asisten redaktur dan saat sudah menjadi “redaktur” (beban kerja dan tanggungjawab macam redaktur tapi bayaran stucklevel asisten, LoL).

Jadi, saat di desk itu, tentu saya mau tidak mau menjadi sering berhubungan dengan narasumber baik dari kalangan bank sentral maupun para bankir. Salah satu bankir yang saya kenal adalah Jahja Setiaatmadja. Pernah dengar namanya enggak? Di industri bank, nama beliau tergolong super ngetop. Haha. Ya, maklum, Jahja adalah orang nomor satu di bank swasta terbesar di Indonesia yaitu PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Siapa yang enggak kenal BCA? Bank dengan ATM di mana-mana, haha.

Nah, ceritanya, suatu hari, saya menanyakan suatu isu pada Pak Jahja ini melalui Whatsapp. Setelah tanya jawab lewat fingertipsitu, saya meminta waktu khusus untuk wawancara. Cuma, saya bilang ke beliau, saya enggak hendak bertanya tentang industri bank atau bisnis BCA. Saya ingin menggali sisi personal financebeliau saja. Pak Jahja pun setuju dan meminta saya berkoordinasi dengan sekretarisnya untuk mencari jadwal yang tepat. Menunggu kesempatan kayak gini kudu sabar. Maklum, narasumber orang sibuk, ya. Syukurlah ada jadwal yang saya dapatkan di Oktober 2016 itu.

Jadilah pada hari yang sudah ditentukan, saya mendatangi kantor beliau di Menara BCA, Sudirman. Lupa lantai berapa, haha. Sebelumnya sudah beberapa kali, sih, kesini. Terakhir, sebelum kesempatan wawancara eksklusif itu, saya mampir kesini untuk ikutan foto-foto, wkwkwk. Lupa deh acara apa, ya. Yang pasti waktu itu saya enggak wawancara, cuma ngobrol-ngobrol doang plus foto-foto, haha.

Saya datang 1 jam sebelum jadwal yang ditentukan. Ngobrol-ngobrol bentar sama mbak resepsionis. Dan dari dia saya tahu jadwal Pak Jahja yang super padat. Tamu hilir mudik menemuinya tanpa henti.

Saya santai saja baca majalah di ruang tunggu. Lalu, ketika sudah mendekati waktu yang ditentukan, saya lihat Pak Jahja keluar mengantarkan tamu-tamunya hingga ke depan lift. Orang asing semua. Dia lalu menyapa saya, “Ruisa, sebentar, ya, saya mau ambil nafas dulu, hehehe. Udah lama nunggu, ya?” sapa beliau ramah. Saya jawab santai sembari menyiapkan “amunisi” wawancara yaitu notes dan ponsel dengan batre penuh. Saya mau rekam isi wawancara dengan ponsel saja. Walau saya sudah sering bertemu narasumber dalam keperluan wawancara eksklusif seperti ini, tetap saja deg-degan. Haha.

Yang pasti, dalam wawancara yang berlangsung sekitar dua jam itu, sesuai tema, saya lebih banyak mengorek tentang sisi personal beliau, terutama dari sisi pengelolaan finansial. Surprisingly, saya baru tahu kalau bankir sekelas beliau pun pernah bermasalah dengan kartu kredit, haha. Penasaran apa saja yang saya tanyakan dan obrolkan dengan Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA? Yuk, baca hasil wawancara lengkapnya di sini:

*note: wawancara eksklusif saya dengan Jahja Setiaatmadja sudah pernah tayang di blog HaloMoney.co.id.

Jahja Setiaatmadja, kini berusia 60 tahun, menghabiskan hampir tiga dasawarsa hidupnya membesarkan PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Dalam kesempatan ini, Jahja berbagi tentang perjalanan karier dan strategi keuangan pribadi.

Di industri perbankan tanah air, nama BCA tercatat sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia. Sampai akhir September 2016, nilai aset bank yang dimiliki oleh kelompok usaha Djarum itu sudah mencapai Rp 646 triliun (update, pada akhir tahun 2017, nilai aset BCA sudah lebih dari Rp 700-an triliun). 

Kesuksesan BCA menjadi salah satu bank terkemuka di Indonesia, sulit dilepaskan dari kiprah Jahja Setiaatmadja, sang Presiden Direktur BCA saat ini. Jahja yang merintis karir di BCA sejak dekade 1990 itu, telah melewati berbagai fase jatuh bangun hingga akhirnya BCA menjadi bank sebesar sekarang.

Bagaimana Jahja merintis karier sampai berhasil menjadi bankir kawakan? Kemana saja Jahja menyebar portofolio investasi pribadi? Bagaimana cerita dia pernah terjebak tagihan kartu kredit? 

Simak wawancara eksklusif Ruisa Khoiriyah dengan Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja, di kantornya di Menara BCA, beberapa waktu lalu.

Bagaimana cerita masa kecil Bapak hingga akhirnya memilih jalan hidup sebagai bankir?

Saya berasal dari keluarga yang tidak mampu, kebetulan lahir sebagai anak tunggal. Bapak saya memang karyawan Bank Indonesia, tapi beliau bukan pejabat. Jabatan beliau hanya kepala kasir di BI. Level rendah kalau dalam struktur kepegawaian di sana. Makanya, kami bahkan baru memiliki rumah sendiri setelah bapak saya pensiun. Itu karena mendapatkan tunjangan hari tua.

Nah, ketika saya lulus sekolah menegah atas, bapak saya bertanya, saya mau kuliah jurusan apa. Saya bilang ke orangtua, saya ingin masuk jurusan kedokteran gigi. Jadi, cita-cita saya dulu itu memang ingin menjadi dokter gigi. Tapi, bapak saya lalu bilang, “Kedokteran gigi mahal, enggak kuat kita. Coba yang lain aja,” kata beliau. Kita tahu kedokteran gigi biayanya lebih banyak, harus investasi alat, dan lain-lain.

Ya, sudah, akhirnya saya bilang, ingin masuk jurusan teknik saja di Universitas Trisakti. Tapi, bapak saya lagi-lagi bilang, janganlah kesana itu juga mahal.

Lalu, akhirnya Bapak memilih jurusan apa?

Ya, saya jadi mikir. Ini bapak saya nanya-nanya kok enggak bisa semua. Lantas, jurusan apa bisanya bagi bapak ya (Jahja tertawa terkekeh). Akhirnya, saya cari-cari lagi. Ya sudah, saya coba milih jurusan akuntan saja di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Saya ikut tes dan lolos. Waktu itu sekitar tahun 1974, uang sekolah sekitar Rp 60.000.

Di sini, saya selesaikan kuliah dalam waktu 4,5 tahun. Rata-rata mahasiswa waktu itu butuh waktu sekitar 5 tahun hingga akhirnya lulus.

Begitu lulus, Bapak langsung bekerja?

Setelah lulus waktu itu saya mikir, mau ngapain ya? Kan belum skripsi. Jadi, yang lulus itu mata kuliahnya, tetapi belum wisuda. Jadilah, waktu itu saya mengisi waktu bekerja di kantor akuntan, Pricewaterhouse, sebagai akuntan junior. Gaji saya ketika itu Rp 60.000 per bulan. Sekitar tahun 1979.

Selain itu, saya juga punya pekerjaan sambilan menyewakan video ke orang-orang. Buat tambahan uang jajan. Salah satu langganan saya adalah Pak Rudi Capelle, beliau seorang direktur di perusahaan farmasi PT Kalbe Farma. Beliau ini yang mengajak saya bergabung di Kalbe Farma.

Jadi, itu awal mula Bapak masuk ke industri farmasi?

Benar. Asal muasalnya itu saya bisnis penyewaan video ke rumah-rumah, saya antar pakai motor. Nah, Pak Rudi itu adalah salah satu langganan saya. Beliau tahu saya seorang akuntan, lalu beliau mengajak bergabung ke Kalbe sebagai akuntan juga. Jadilah saya masuk Kalbe Farma di bagian keuangan mulai tahun 1980.

Di Kalbe Farma saya bekerja sampai tahun 1988. Posisi terakhir sampai direktur keuangan. Kemudian, pada tahun 1989, saya ditarik ke Indomobil, perusahaan milik Grup Salim. Di sini saya juga sebagai direktur keuangan, sebelum akhirnya masuk BCA mulai tahun 1990.

Di Kalbe dan Indomobil, karier Bapak sudah cukup bagus, mengapa malah melompat ke bank?

Ceritanya, waktu itu di Indonesia ada liberalisasi perbankan, Pakto 88. Pemilik BCA waktu itu masih keluarga Salim. Beliau mengatakan, “Kamu orang keuangan, mending ke bank saya. Di sana orang keuangan lebih dibutuhkan.”

Saya dijanjikan gaji lebih besar ketimbang saat di Indomobil, tapi jabatan saya turun. Dari semula Direktur Keuangan mejadi Wakil Kepala Divisi. Saya bilang, ya udah enggak apa-apa deh. Karena, di BCA kesempatan untuk berkembang masih ada. Sedangkan di Indomobil, karier saya sudah mentok sebagai Direktur Keuangan.

Kalau mau jadi Direktur Utama, susah juga karena di perusahaan otomotif, posisi CEO biasanya orang dari industri yang lebih paham masalah pemasaran. Jarang orang keuangan menjadi CEO di otomotif. Sedangkan BCA kan bank, jualannya uang. Orang keuangan pasti sangat terpakai.

Dengan pertimbangan itu, saya akhirnya masuk BCA. Janjinya saat itu, dalam waktu setahun saya akan diangkat sebagai kepala divisi. Pada praktiknya, saya menanti sampai 5 tahun baru akhirnya diangkat sebagai kepala divisi, hehee. Singkat cerita, saya menjadi kepala divisi di BCA pada tahun 1995. Lalu, terjadi krisis tahun 1997-1998.

Di BCA, saya justru menjadi direktur saat BCA dipegang oleh BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional), yaitu  tahun 1999, setahun setelah krisis. Menginjak tahun 2002, masuk investor asing ke BCA yaitu Farindo Investment, saya bertahan menjadi direktur. Tahun 2005, saya menjadi wakil direktur utama dan tahun 2011 saya ditunjuk menjadi Presiden Direktur BCA. Hasil Rapat Umum Pemegang Saham akhir tahun 2016 menunjuk saya menjadi Presiden Direktur lagi untuk periode kedua.

Jahja mengapresiasi masa-masa awal di BCA sebagai masa investasi yang berharga. Dalam berbagai kesempatan memberi kuliah umum pada para mahasiswa di banyak universitas, Jahja sering membagi pandangan. “Saya bilang, tahun-tahun pertama bekerja adalah investasi pada diri kita sendiri, jangan suka hitungan.

Belum apa-apa sudah menanyakan kenaikan gaji, lembur, dan sebagainya. Jadikan tahun-tahun pertama bekerja untuk belajar. Belajar dari buku bisa saja tapi kalau enggak langsung praktek (di tempat kerja), biasanya susah nempel di kepala.”

Bapak mengalami masa-masa ketika BCA diterpa krisis moneter 1998, bagaimana situasi yang Bapak hadapi ketika itu?

Ketika itu, suasananya memang mencekam. Sebenarnya, awal mulanya sekitar November 1997 saat ada beberapa bank kecil ditutup. Nah, nasabah dari bank-bank tersebut yang resah lalu memindahkan dana mereka ke berbagai bank, termasuk BCA. Waktu itu BCA sudah menjadi bank yang dipercaya. Lalu, berjalan waktu, meledak situasi politik sampai akhirnya tahun 1998 terjadi penarikan dana besar-besaran atau rush. Itu ada kesengajaanlah, ada yang main… sampai akhirnya nasabah yang baru menaruh uang di BCA, orang-orang yang resah tadi, mereka ikut-ikutan menarik dana mereka di BCA.

Padahal, nasabah asli atau nasabah lama kami, tetap loyal dan tidak terpengaruh obrolan-obrolan seperti itu. Akhirnya, ya, mereka ini ikutan rush juga. Alhasil, dana yang ditarik para nasabah kami cukup besar. Akan tetapi, kami didukung terus oleh BI sehingga tidak sampai dilarang kliring. Kami penuhi kebutuhan seadanya sampai akhirnya lolos.

Bulan Februari-Mei 1998 yang parah. Tapi, cuma butuh waktu singkat sampai akhirnya dana-dana itu masuk lagi. Situasi normal lagi. Tahun 1998 kami rugi besar tapi tahun 1999 kondisi sudah untung.

Sebelum di BCA, Bapak berkecimpung di dua industri nonkeuangan, apa yang paling menarik dari sana Pak?

Di dua perusahaan sebelumnya, Kalbe Farma dan Indomobil, saya selalu pegang keuangan. Begitu masuk ke BCA, pengalaman di dua industri itu, membawa bekal banyak, saya jadi tahu isi perut korporasi. Waktu di bank, saya jadi tahu ini penting. Jadilah saya terdidik menjadi seorang generalist. Anda tahu di bank kalau masuk melalui management trainee, biasanya orang dididik sebagai spesialist di skill tertentu.

Nah, saya yang berangkat dari industri lain akhirnya memiliki bekal lain yang lebih banyak. Apalagi saat menjadi auditor, saya biasa melihat isi perut perusahaan bermacam-macam bidang, mulai dari perusahaan kayu, tekstil dan sebagainya.

Bapak besar sebagai seorang yang concern di bidang keuangan. Tapi, dari sisi pribadi, bagaimana pengelolaan keuangan Bapak?

Saya sebenarnya orangnya cukup konservatif masalah keuangan. Di BCA ini, kan, kalau dari sisi pendapatan dan fasilitas sudah lebih dari cukup. Supaya kami bisa menikmati hidup, mencari keseimbangan. Kalau di luar kantor masih sibuk berpikir tentang aset, kayaknya kurang menikmati ya.

Makanya, saya biasa-biasa saja dalam mengelola keuangan. Saya alokasikan saja ke aset-aset sepeti properti, deposito, surat berharga, juga reksadana. Biarkan saja di sana. Ada yang naik atau turun, saya biarkan saja.

Bapak kelola semua aset sendiri? 

Iya, saya mengelola sendiri. Kalau reksadana, kan, ada manajer investasi. Sebenarnya kalau mau repot, ya, beli saham sendiri, bisa untung besar, tapi kan susah itu. Makanya saya pilih reksadana saja, ada fund manager yang mengelola. Sejauh ini hasilnya juga enggak mengecewakan. Kalau investasi di saham langsung, paling saya pegang saham BBCA. Tiap tahun, kan, ada bonus. MSOP juga masih ada sisa. Kalau saham lain, ada juga tapi kecil. Lebih banyak di reksadana.

Mengapa Bapak tidak pernah memakai jasa wealth planner?

Ya, karena saya merasa enggak terlalu, gimana, ya. Untuk reksadana saja, misalnya, kita mendapatkan laporan di waktu tertentu. Sedang aset lain seperti properti, juga bisa saya kontrol sendiri. Kan, jumlah properti saya enggak sampai yang ratusan unit, baru belasan unit saja.

Saya beli properti juga bukan untuk jual beli (trading), tapi untuk investasi jangka  panjang. Paling anak-anak saya yang sibuk mencarikan penyewa. Maka itu, dengan kondisi seperti ini, saya merasa belum perlu jasa pengelolaan oleh profesional.

Bila mengidentifikasi diri, apa profil risiko Bapak?

Risk profile saya moderat.

Seperti apa isi portofolio investasi Bapak saat ini? Berapa besar porsi di masing-masing aset?

Enggak mesti ya, berapa persentasenya. Investasiproperti saya juga ada yang memanfaatkan kredit pemilikan rumah (KPR). Saya hitung sampai kapan kira-kira tanggungan cicilan itu, bagaimana selesai saat saya pensiun sehingga tidak ada tanggungan lagi. Misalnya, saya ada 2-3 KPR. Nanti salah satu yang sudah lunas, itu bisa membayar semua cicilan yang tersisa ketika terjadi apa-apa. Yah, saya juga diasuransikan, sih, tapi ini untuk ketenangan saja.

Jadi, aset Bapak lebih banyak di properti, ya? 50% di sana?

Iya, aset di properti lumayan, sekitar 50%. Ada rumah, ada apartemen. Tidak semua properti saya beli tunai, ada yang memanfaatkan KPR.

Apa prinsip utama Bapak dalam pengelolaan keuangan yang ingin Bapak bagi untuk pembaca?

Yang terpenting adalah, jangan besar pasak daripada tiang. Kita harus bisa mengukur kemampuan kita sendiri. Dari awal bekerja saya menerapkan hal ini. Jadi, setiap mendapat penghasilan, saya membagi ke dalam berbagai pos kebutuhan. Berapa untuk cicilan, untuk biaya hidup, untuk tabungan, dan lain-lain. Tentu saja di awal-awal dulu hitungan saya lebih kencang karena pendapatan masih terbatas. Jadi, harus dioptimalkan.

Gaji pertama saya ketika itu Rp 60.000, dan saya belum mampu mengambil KPR. Ketika masuk ke Kalbe Farma baru saya berani mengambil KPR, di sana gaji saya Rp 200.000 per bulan. Saya masih ingat, ketika itu KPR-nya bernama Papan Sejahtera, haha.

Saya menikah tahun 1983, nah saya ajukan KPR itu tahun 1982 sebelum menikah. Jadi, saat sudah menikah, saya sudah langsung rumah sendiri. Lokasinya berdekatan dengan rumah orangtua saya.

Bapak yang kelola sendiri pendapatan? Biasanya ibu-ibu yang mengurusi keuangan keluarga?

Saya urus sendiri keuangan keluarga, istri saya enggak mau pusing, hahaha.

Bapak mulai berinvestasi kapan?

Saya baru mulai berinvestasi tahun 2000-an ya, saat cicilan sudah selesai. Sebelum itu ya hanya menabung kecil-kecilan, menaruh uang di deposito. Kalau investasi lebih dari itu, belum saya lakukan karena memang belum ada kemampuan.

Dari awal bekerja, apakah Bapak langsung memakai kartu kredit?

Enggak juga. Saya baru pegang kartu kredit itu tahun 1986-an saat saya bekerja di Kalbe Farma.

Apa pertimbangan Bapak memakai kartu kredit ketika itu?

Pertimbangan kepraktisan saja. Kartu kredit bagi saya adalah alat transaksi, mempermudah transaksi. Jadi, kartu kredit bukanlah untuk menyokong kebutuhan tunai. Kita harus ingat, kartu kredit itu mahal apalagi kalau sampai digunakan untuk tarik tunai. Kecuali sudah darurat banget, misalnya sampai mau diusir dari rumah mertua, baru dipakai gakpapa, hahahaha.

Adakah pengalaman kurang baik atau pengalaman lucu dengan kartu kredit?

Pernah. Waktu itu saya beli tiket pesawat memakai kartu kredit. Tiketnya, sih, enggak mahal. Tapi, ketika tagihan jatuh tempo datang, itu terlewatkan soalnya posisi saya waktu itu di luar negeri, sedang ada tugas kantor. Pembayaran juga tidak autodebet. Nah, saat pulang, saya baru tahu ada tagihan yang terlewat. Lalu, saya kaget sekali, kok, tagihannya jadi besar sekali.

Ketika itu saya belum bekerja di bank. Wah, itu besar sekali dendanya. Padahal yang terlambat dibayarkan hanya satu transaksi, tapi cara menghitungnya memang seperti itu. Anggaplah, saya beli tiket harga Rp 100 ribu dan masuk tagihan bulan lalu. Kemudian, di bulan berjalan saya ada transaksi sampai Rp 10 juta. Nah, pas datang datang tagihan, jadinya besar sekali. Wah, pusing saya waktu itu.

Lalu, akhirnya tetap Bapak bayar dendanya?

Saat itu saya akhirnya sampai membuat surat komplain, penerbit kartu saya itu bank asing. Saat saya komplain, ya, mereka bilang, “Kan, bapak sudah tanda tangan term and condition..” Wah, pusing, deh.

Jadi, memang seperti itulah cara kerja kartu kredit setelah kita teliti. Akhirnya, saya diberi diskon 50% pembayaran. Pengalaman sekali itu. Jangan sampai telat bayar, hehehe.

Bapak bayar tagihan kartu kredit lebih suka bayar penuh atau minimum payment?

Saya selalu bayar penuh tagihan kartu kredit saya. Karena saya tahu sekali bunga kartu kredit itu tinggi sekali. Bayangkan, bunga 2,6% per bulan, setahun sudah berapa? Kalau ada uang ya langsung lunasi saja.

Menurut saya, banyak orang salah kaprah tentang kartu kredit ini. Banyak yang menganggap kartu kredit itu sebagai penambah kemampuan bayar. Padahal, ini kan sekadar alat transaksi untuk memudahkan cara bayar, bukan menambah kemampuan kantong kita.

Kalau kemampuan dompet ya dari hasil kerja kita setiap hari, hahaha. Orang malah salah sangka, belanja kartu kredit banyak sampai limit yang diberikan. Yang enggak penting akhirnya dibeli hanya karena ada kartu kredit. Itu salah. Giliran disuruh bayar, ya, jadi terperangkap.

Sebagai bankir, bank, kami juga enggak mau dong memerangkap nasabah. Bank sendiri juga pusing saat ada kredit bermasalah karena kartu kredit ini.

Jadi, orang harus selalu ingat ya, Pak : kartu kredit itu sekadar alat transaksi, berbunga mahal makanya gunakan sesuai kemampuan, dan lunasi penuh tagihan?

Benar, terapkan prinsip itu agar tidak ada masalah.

Bagaimana cara Bapak menyeimbangkan hidup di tengah tuntutan pekerjaan sebagai Presiden Direktur Utama BCA?

(Ketika saya berkunjung ke kantor, Jahja sibuk menerima tamu dari pagi sampai sore hari. Namun, Jahja tidak terlihat letih. Justru saat saya memintanya bercerita banyak hal tentang kehidupan pribadi dan pengelolaan keuangan pribadi, Jahja semakin bersemangat)

Hari Sabtu saya biasanya bermain golf seharian, baru hari Minggu waktunya saya bersama keluarga. Saya sudah memiliki dua cucu, jadi waktu libur kadang saya habiskan bersama mereka.

Untuk menjaga kebugaran, saya berenang setiap pagi dari hari Senin-Kamis. Menginjak hari Jumat, saya main golf dari jam 6 pagi sampai jam 9 pagi, lanjut masuk kantor. Lalu, hari Sabtu saya khusus bermain golf dengan teman-teman disambung makan. Malam minggu, ya bersama keluarga. Kalau ada undangan, ya pergi kondangan malam harinya, hehehe.

Di kantor seperti ini saya bisa sampai jam 8 malam. Beruntung, saya termasuk orang yang mudah tidur. Sampai rumah langsung bisa istirahat dan keesokan hari sudah segar lagi.

Terima kasih Pak Jahja atas waktu dan sharing-nya 🙂

Nah, itulah sepenggal obrolan wawancara saya dengan Jahja Setiaatmadja, bankir kenamaan yang kini memimpin BCA. Semoga bisa memberi inspirasi ya bagi kita tentang pengelolaan finansial pribadi!

selesai intreview, foto dulu. saya kemana-mana nenteng cooler bag, termasuk saat bekerja #busuianywhere

Leave a Reply

Your email address will not be published.