AnggaranKeuangan PribadiLife

Punya Anak Memang Mahal atau Kita Saja yang Terlalu Memaksakan Diri?

Banyak orangtua muda atau orangtua baru yang terkaget-kaget ketika memiliki momongan. Kaget dengan pengeluaran yang melonjak tinggi, haha. Emang benar, ya, punya anak itu mahal? Belum lagi mikir biaya sekolah. Duh, pusing duluan!

Beberapa waktu lalu saya membaca artikel berisi curahan hati seorang mamah muda yang kurang lebih menceritakan betapa besar biaya memiliki (mengasuh dan membesarkan) anak. Di timelinesaya banyak yang share, jadi ikutan baca, deh. Beberapa bagian dari tulisan tersebut saya akui memang menjadi common experiencespara orangtua muda termasuk saya.

Saya tulis komentar saya seperti ini di Facebook:

Mahal atau murah, untuk beberapa hal terkait anak, kadangkala murni masalah pilihan. Tantangannya sama: bisa membedakan mana yang memang kebutuhan dan mana yang sekadar keinginan menuruti GAYA HIDUP. You know lah, ada yang namanya Social Media Pressure, Peer Pressure, Media Pressure, dsb. Hahahaa.

Baju, misalnya. Baju yang berkualitas dg harga yang oke masih banyak. Ga harus pake baju branded, kan? Begitu juga mainan. Kadangkala saya mencurigai diri sendiri saat kalap belanja mainan untuk anak: “Sebenarnya saya belanja untuk memuaskan ego diri sendiri (karena zaman kecil dulu mainan kek gitu belum ada, haha), atau memang mainan tersebut akan efektif membantu stimulasi anak kita?” walau end-up nya ya tetep belanja, hahaha.

Menginginkan yang terbaik untuk anak tidak harus mahal dan overspending. Berlebih-lebihan berbelanja untuk anak sering menjadi kesalahan finansial yang banyak terjadi di usia 30-an. Mikirnya harus selalu jangka panjang sehingga ga kejebak gaya hidup yang semu.

Jadi orangtua baru memang mengantarkan seseorang ke tahapan hidup yang sungguh di luar bayangan. A game changer.Semua mimpi-harapan-target, kalau dalam pengalaman saya, mau enggak mau harus ada adjustmentseiring dengan kehadiran si kecil. Makhluk kecil dengan pandangan mata polos belum mengenal dosa itu, mengubah 100% hidup saya. Semua orangtua pasti juga merasakan hal seperti ini….

Ada makhluk kecil yang tak berdaya di mana kehidupannya sangat bergantung pada kita: orangtuanya. Secara naluriah, para orangtua sudah tentu akan berupaya melakukan yang terbaik untuk kesejahteraan dan kebahagiaan anak mereka. Itu sangat manusiawi.

INGIN SELALU MEMBERIKAN YANG TERBAIK?

Di zaman yang semakin kompleks ini, yang jadi soal adalah ketika definisi tentang “apa yang terbaik” lebih banyak disetir oleh eksternal: media, social media, society, advertising, peer pressure, etc. Di sinilah lalu mulai muncul banyak masalah. Alam kapitalisme menyuguhkan konsep begini: yang terbaik (hampir) pasti mahal. So, yang terimbas adalah keuangan. Lebih tepatnya, isi kantong mamah dan papah muda ini.

Tapi, sebenarnya apa, sih, yang terbaik itu kalau perihal anak? Apakah baju bermerek? Atau, mainan yang selalu update? Atau, dana pendidikan yang aman sampai bangku kuliah? Atau, apa? Haha. Jawaban atas pertanyaan itu memang akan sangat relatif, sih. Bagi saya, untuk menemukan definisi tentang apa yang terbaik, akan lebih pas kalau balik lagi ke konsep piramida kebutuhan. Mulai dari yang terpenting dulu!

Sebagai gambaran, bagi saya, memberi asupan makanan yang terbaik adalah salah satu kewajiban penting orangtua. Nah, asupan terbaik bagi saya antara lain, ASI, makanan bergizi terutama buah dan sayur. Menyiapkan dana pendidikan mereka juga termasuk salah satu fokus penting selain memberi mereka stimulasi melalui mainan dan buku. Ya, jangan sampai yang terjadi, kita sibuk gerojog anak dengan mainan dan buku-buku mahal tapi lupa enggak menabung dana pendidikan mereka, hahah. Berat nanti, kata Dilan *eeeaaa.

Nah, perihal finansial, ada tulisan dari Newparentyang menarik dan ingin saya bagi di sini. Menurut artikel tersebut, ada banyak “kesalahan” finansial yang sering dilakukan oleh para orangtua muda. Apa

Mengutip Newparent, ada beberapa kesalahan finansial yang sering dilakukan para orang tua muda:

1. Mengabaikan asuransi jiwa

kebutuhan anak

Menjadi orangtua artinya, kita memiliki tanggungan. Anak-anak kita bukan cuma bergantung secara emosional atau fisik pada para orangtuanya, melainkan tentu saja secara finansial. Ye kan? Kita sebagai orangtua kerja keras siang malam ingin menambah penghasilan sana sini salah satunya adalah supaya anak-anak kita sejahtera hidupnya.

Nah, pernahkah kebayang bila tiba-tiba salah satu dari orangtua si anak meninggal dunia? Saat seseorang yang selama ini menanggung secara finansial kehidupan si anak tiba-tiba tidak ada dan terhenti pula sokongan finansial tersebut, bagaimana nasib sang anak? Siapa yang memberi dia makan dan pakaian juga tempat tinggal?

Inilah mengapa, akan sangat direkomendasikan bagi para orangtua agar memiliki asuransi jiwa. Ibarat payung, keberadaan asuransi jiwa minimal akan memperkecil guncangan finansial bagi si anak ketika sang orangtua tiba-tiba meninggal dunia. Para orangtua yang tercatat sebagai karyawan mungkin sudah diikutsertakan kantor untuk program asuransi jiwa atau jaminan kematian seperti ini. Bila belum ada, kita bisa beli asuransi jiwa sendiri di luar.

Lebih baik beli yang berjenis asuransi jiwa berjangka murni atau term life. Di pasar saat ini tersedia berbagai pilihan jangka waktu mulai 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun hingga 20 tahun. Sampai di sini mungkin ada yang nanya, “Mengapa ga sekalian beli yang melindungi seumur hidup? Kan banyak tuh yang sampai 99 tahun perlindungannya..” Balik lagi, ya, ini tergantung pada kebutuhan kita.

Kalau menurut saya, asuransi jiwa hanyalah mekanisme pengelolaan risiko. Dalam hal ini adalah risiko finansial yang ditanggung oleh anak atau tanggungan bila sewaktu-waktu kita tidak ada. Jadi, saat risiko sudah tidak ada, ya urgensi memiliki asuransi berkurang. So, saya menilai term life akan lebih efisien dalam menjalankan fungsi sebagai pengelolaan risiko finansial sebagai orangtua yang menanggung anak.

Bacaan lain tentang asuransi jiwa yang pernah saya tulis:

Segala Hal yang Perlu Anda Pahami tentang Asuransi Jiwa

Tidak Perlu Membeli Asuransi Jiwa Bila Memiliki Faktor-Faktor Ini

2. Menunda menabung dana pendidikan

“Anak baru lahir kemarin, masak sudah pusing menabung uang sekolahnya, sih?” Begitu mungkin celetukan yang kerap terdengar, haha. Coba dibalik kayak gini, “Mumpung anak masih kecil, menabung mulai sekarang biar nanti pas datang waktu bayar uang sekolah, udah ada simpanan…”

Kita hidup di rezim uang kertas. Inflasi adalah hal yang nyaris mustahil kita hindari. Di sisi lain, kita perlu paham ada yang dinamakan konsep “Time value of money.” Uang yang kita miliki sekarang lebih berharga daripada uang sejumlah sama di waktu mendatang. Anda ingat lagu “Abang Tukang Bakso” yang dinyanyikan penyanyi cilik Melissa (aww, ketahuan umurnya, wkkw). Di lagu itu, Melissa bisa membeli semangkok bakso dengan uang Rp200 saja. Lagu itu hits sekitar awal 1990an. Sekarang semangkok bakso berapa, buibuk? Kalau bakso di pingir jalan masih bisa dapet Rp12.000 semangkok. Di mal? Paling murah Rp20.000 kayaknya.

Jadi, uang Rp200 cukup buat apa hari ini? Kasih Pak Ogah di pengkolan saja enggak cukup, ya, hehe. Inilah pentingnya menabung. Menabung juga bukan sekadar menabung di bank, ya. Menabung artinya, sisihkan uang di tempat atau instrumen yang pertumbuhannya bisa melampaui inflasi sehingga uang yang kita tempatkan tidak dikalahkan oleh inflasi.

FYI, inflasi dana pendidikan per tahun bisa mencapai 15%! Ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk menabung dana pendidikan. Beberapa orangtua memilih membeli emas sebagai tabungan. Tiap anak ultah, dibelikan emas sekian gram. Nanti pas datang waktu bayar uang masuk sekolah, emasnya dijual untuk bayar. Bisa juga menabung dana pendidikan di instrumen lain seperti reksadana, saham, bahkan dalam bentuk properti. Yang terpenting, bisa tumbuh di atas inflasi, ya. Sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit.

3. Berlebih-lebihan membeli barang bayi/anak

Iya, benar, semua orangtua menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Tapi, ingat juga yang terbaik tidak selalu mahal. Mainan, misalnya. Anak-anak itu super duper mudah bosan dan bagian dari tahap eksplorasi mereka adalah -salahsatunya- dengan cara melempar, membanting, meretelin mainan, dan lain sebagainya. Wakakakakk. O, ya, tentu sebagai orangtua kita tidak boleh capek memberitahu mereka agar merawat mainan, tapi yang namanya anak, ya, ya gitu deh, wkwkw.

Tak terhitung saya belikan playdoh dan tak terhitung pula playdoh itu berakhir dengan warna tak karuan karena selalu dicampur atas nama eksplorasi, haha. Kalau menuruti hati, pengennya beliin playdoh teruslah, tapi, kok rasa-rasanya jadi mubazir. Akhirnya saya ganti beli lilin atau malam yg lebih murah, mainan yang dulu pas kecil sering pakai juga, haha. Pernah juga eksplorasi bikin playdoh sendiri. Itu baru playdoh ya…

Godaan orangtua memang kayak gitu, sih. Beli stroller harga Rp20 juta (di saat masih banyak stroller Rp2 jutaan yang udah cukup oke) supaya saat jalan-jalan ke mal keren gitu dilihatnya, LoL. Ya, gakpapa kalau memang mampu. Tapi, bijak enggak menuruti hati beli stroller segitu, bila masih banyak kebutuhan lebih penting lain untuk dipenuhi? Yang lebih parah, bela-belain beli baby gear harga mahal tapi menabung dana sekolahnya malah enggak jalan, wkwkwk. Jangan sampai, ya.

I have to admit, kalau saya lemahnya di buku anak, haha. Even tahunan kayak Big bad Wolf itu beneran susah deh, haha. Saya sendiri senang buku dan suka lupa diri pas beli buku untuk diri sendiri; apalagi buku anak-anak itu aseli deh lucu lucu, hihihii. Jalan keluarnya, saya batasi budget aja. Misalnya pas BBW kemarin, maksimal belanja berapa… atau menyiapkan dulu pendanaannya jauh-jauh hari… ga banyak-banyak ikut grup jastip (LoL!), dan lain sebagainya.

So, itu dia 3 di antaranya kesalahan finansial yang sering dilakukan oleh para orangtua. Ada yang mau nambahin? Tulis di kolom komentar, yukkk!

 

 

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *