Sebuah Eulogi untuk Aviet…

Tulisan ini sudah ku tulis sejak Februari lalu, tapi tidak bisa aku selesaikan…

Kembali ke Februari 2021

Sepenggal Rabu dengan matahari yang seronok memberi sinarnya, seperti sebuah jeda setelah akhir pekan lalu hujan begitu deras hingga melahap banyak tempat dalam banjir…

Hari ke-4 sejak kamu tak ada lagi…

Aku masih sulit percaya, Viet. Berulang aku menggumam: “Bagaimana ini semua bisa terjadi? Bagaimana bisa kamu akhirnya benar-benar pergi karena virus itu…”

Awal Februari 2021, di tengah pandemi kejam yang semakin menjadi-jadi, kamu memecah kabar di grup alumni Sosiologi UGM, “Aku positif Covid-19…” Semua kawan tentu saja terkejut. Kamu optimistis akan sembuh dan mampu melawan virus jahanam itu. Tentu berat bagimu. Karena yang terinfeksi bukan kamu sendiri. Suami dan kedua orang tuamu juga positif. Anak-anakmu tercinta, alhamdulillah hasil tesnya negatif.

Di tengah negeri di mana kelayakan fasilitas medis masih fatamorgana, pandemi ini menjelma sejuta kali lebih brutal. Kau bilang, walau sudah melapor ke Satgas setempat, tidak ada tindak lanjut apa-apa karena memang kasus terlalu banyak di mana-mana, tidak sebanding dengan tenaga kesehatan dan fasilitas medis yang ada. Kamu dan keluarga pun mengambil tes mandiri dan untuk sementara menempuh karantina di rumah…

5 Februari 2020

Kamu memberi kabar, ibumu tercinta dilarikan ke rumah sakit karena sempat tak sadarkan diri. “Aku masih susah sekali makan, maag-ku kumat…” ceritamu. Hanya buah apel dan pisang yang bisa kamu kunyah. Kamu cerita, kondisi anak-anak makin membaik. Hanya, kamu mengkhawatirkan suamimu yang punya riwayat asma. “Mudah-mudahan saja tidak sampai kambuh,” ujarmu.

Dipaksa makan ya, non.

Apa tidak sebaiknya langsung ke rumah sakit, non?

“Kami evaluasi hari ini bagaimana kondisi…” jawabmu.

6 Februari 2020

Aku menyampaikan titipan dari teman-teman angkatan, sekadar penyemangat agar kamu tetap tegar berjuang melawan sakit itu… “Semalam aku gak sadar dan dibawa ke rumah sakit.. anak-anak diswab ulang sama bulekku dan ternyata mereka juga positif,” ceritamu. Aku tercekat. Betapa berat yang tengah kau hadapi, kawan. Di rumah sakit melawan virus yang membuat kehidupan manusia sejagat jungkir balik, memikirkan anak-anak, suami juga orang tua…

8 Februari 2020

“Sampaikan terima kasih untuk teman-teman, makasih banyak perhatiannya… Maafkan tidak bisa balas satu-satu, Gusti Allah sing mbales… aku ga kuat nulis, non, pusing…” tulismu di Whatsapp.

Siapa sangka itulah kali terakhir kita whatsapp-an, Viet…

Aku memang menahan diri untuk tidak sering “mengganggu” waktu istirahatmu.

Di grup Sosiologi, Andre, teman angkatan kita, mengabarkan kalau kamu dirawat di RS Caruban dan mau dipindah ke RSUD Madiun.

15 Februari 2020

Sekian hari di rumah aku berjibaku mengurus suami yang harus isolasi mandiri karena kontak erat teman yang positif Covid-19. Kami berjaga-jaga mengkarantina, khawatir sampai ada infeksi dan menulari anak-anak. Iya, separanoid itu mengingat di rumah ada tiga anak kecil yang harus kami jaga sungguh-sungguh. Mengurus suami yang karantina (alhamdulillah akhirnya dipastikan negatif), disambi mengurus tiga anak: dua sekolah online dan satu anak bayi yang sedang mogok makan. Ditambah mengurus pekerjaan yang menumpuk karena laptopku mendadak rusak dan harus diperbaiki di tempat servis. Pekan yang sibuk dan ruwet bagi kami, aku tak sempat bertanya-tanya lagi tentang kabar kamu. Di grup juga sepi. Aku tergerak mengirim pesan di whatsapp.

Tidak ada jawaban dan belum dibaca. Jujur, aku mulai was-was.

Benar saja. Di grup Sosiologi, mas Iwan, suamimu mengabarkan kalau kamu tengah kritis dan membutuhkan rujukan ke rumah sakit lebih besar yang memiliki fasilitas ECMO.

Makjleb.

Teman-teman coba membantu. Karena pilihan salah satunya Surabaya, aku coba mengontak kawan SMA yang dokter di sana. Sembari googling, apa itu ECMO. Salah satu teman bilang, itu peralatan medis langka yang cuma berapa biji di Indonesia. Fungsinya sebagai pengganti paru-paru. Ditambah lagi aku baca di artikel media asing, ECMO itu last resort bagi pasien Covid-19 gejala berat. Astaghfirullah al adzim…

Teman SMA-ku yang dokter, Dr. Heri Munajib, bilang, ECMO alatnya pindah-pindah karena terbatas jumlahnya. Posisi terakhir kata dia, ada di RSSA Malang. Aku coba kontak ke kawan di Unibraw, siapa tahu ada informasi. Berbarengan dengan itu, kawan-kawan semua berusaha juga mencari informasi. Semua berharap kamu lekas mendapatkan perawatan terbaik dan sembuh, Viet.

Aku coba share info ke grup SMP. Ada salah satu teman, Deni Wicaksono, yang kini anggota DPRD Jatim, merespon cepat: “Minta rujukan sama dokter yang merawat sekarang ke RSUD Dr Soetomo, nanti sampai Soetomo biar aku bantu urus,” ujarnya. Segera aku kabari mas Iwan, suamimu. Aku tanyakan lagi ke Deni, apakah besar kemungkinannya ada ECMO di RSUD Soetomo… Deni akhirnya coba menghubungi pejabat rumah sakit dan mendapat kontak dokter terkait yaitu Dr Bambang. Dokter ini yang berhasil memberikan perawatan ECMO pada pasien Covid-19 yang tengah hamil dan akhirnya bisa survive. Aku segera kabari mas Iwan. Di saat yang sama, Retno, teman Sintesa, memberi kabar juga dari temannya kalau di RSUD Dr Soetomo ada 10 ECMO. Alhamdulillah.

Tapi lalu ada masalah…

Mas Iwan bilang, dokter di Caruban tidak mau menghubungi dokter di Soetomo. Padahal itu prosedur umum bila hendak merujuk pasien. Kan lucu, ya, udah ada lampu hijau tapi malah tidak mau maju. Dokter di Caruban maunya permintaan rujukan melalui SISRUTE disetujui dulu baru mau menelpon dokter terkait.

Di sini aku pening. Urusan nyawa begini masih sempat-sempatnya birokratis. Tidak habis pikir. Akhirnya aku coba kontak Dr Bambang, dan persis jawaban beliau, “Dokter yang di sana silakan kontak dokter di sini…”

Ya emang bener gitu, sih. Kenapa jadi ribet ya? Ada apa dengan dokter di Caruban?

Akhirnya aku minta tolong suamiku untuk mengontak Humas RSUD Dr. Soetomo. Meminta pencerahan enaknya gimana. Kala itu sudah masuk maghrib. Mas Iwan juga sudah pasrah menghadapi birokratisnya rumah sakit daerah. Sampai akhirnya aku coba menelpon nomer RSUD Dr. Soetomo yang mengurus rujukan, atas saran Pak Humas. “Bapak, tolong permintaan rujukan atas nama Haning Nurvitra yang sudah diajukan melalui SISRUTE di-approve ya, Pak… ” kataku lewat telpon seluler.

“Ibu, silakan dari Caruban, dokter atau perawatnya menelpon ke Soetomo untuk menjelaskan kondisi pasien dan apa saja yang perlu kami siapkan. Jadi nanti saat transfer, di sini sudah siap,” jelas suara simpatik di balik telepon. Salut saya dengan keramahan layanan RSUD Dr Soetomo, seperti sudah paham betul kondisi emosi keluarga pasien yang tentu kalut dan bingung.

Iya, aku masih bingung harus gimana kalau dari Carubannya keukeuh tidak mau menelpon sebelum disetujui rujukannya. Sedang Soetomo juga berpegang pada alur, telpon dulu baru disetujui rujukannya. Hah!

Aku whatsapp lagi Deni yang juga terheran-heran dengan respon dokter di Caruban. Di tengah kebingungan, ada whatsapp masuk. Dari Dokter Bambang. “Saya sudah kontak dokter anastesi di Caruban, kalau pasien transportable, kami sudah siapkan tempat di Soetomo,” katanya. Alhamdulillah. Segera saya kabari mas Iwan. Belakangan aku tahu, Deni menelpon lagi Dokter Bambang agar lekas dibantu. Saya berterima kasih sekali pada Deni.

Singkat cerita, malam itu kamu berhasil dibawa ke RSUD Dr Soetomo, rumah sakit kelas A. Dengan harapan kamu bisa mengakses perawatan terbaik supaya lekas pulih melawan Covid-19. Kondisimu sudah memakai ventilator…dengan saturasi oksigen masih belum stabil…

16 Februari 2021

Aku menelpon RSUD Dr Soetomo, menanyakan kondisimu. Dijelaskan oleh petugas terkait, kondisimu kala itu masih belum sadar (atau dibuat tidak sadar untuk menghemat energimu, aku tidak paham betul), kadar oksigen 70% (ini ternyata maksudnya, sokongan oksigen 70%, berbeda dengan saturasi), tekanan darahmu 100/57. Bagian informasi rumah sakit terbesar di Jawa Timur itu memberikan nomor hp yang bisa dihubungi keluarga agar bisa mengetahui kondisimu kapan saja. Maklum, di tengah kondisi pandemi yang meruyak, kamu tidak bisa ditunggui 🙁

Aku berikan informasi ke mas Iwan dan Rendra, adikmu…

Iya, aku pun bertanya-tanya, mengapa ECMO belum juga segera dipasang sedangkan menurut dokter Caruban, kamu perlu ECMO sebagai ikhtiar penyembuhan…

Tapi lalu, ada kabar dari dokter yang merawatmu, bahwa secara klinis kamu menunjukkan kemajuan sehingga belum perlu tindakan ECMO. Cuma, kamu masih perlu sokongan ventilator untuk sepekan ke depan…

18 Februari 2021

Aku tanyakan lagi perkembangan kabarmu ke nomor telpon yang diberikan oleh pihak rumah sakit. Saturasi oksigenmu sudah makin baik sudah di level 93-an. Namun, ada masalah di jantung. Aku tidak tahu persisnya, tapi aku menangkap optimisme di penjelasan mas Iwan, suamimu. Betapa lega aku mendengar ada kemajuan kondisimu, non… Aku pun optimistis kamu tetap semangat mengalahkan Covid-19 ini… ku bisikkan doa di setiap aku mengingat kondisimu yang tengah berjuang melawan sakit itu…

Kamu seorang fighter sedari dulu…

21 Februari 2021

Siang tiba, mendadak aku mendapat Whatsapp dari RSUD Dr Soetomo yang meminta keluargamu menemui dokter di front desk. Segera aku hubungi mas Iwan. Aku coba tanya juga ke rumah sakit, ada perkembangan apa gerangan. Namun, karena posisiku bukan keluarga, mereka meminta aku menanyakan nanti ke keluargamu… dalam hati aku berdoa sungguh-sungguh, semoga tidak ada kegawatan apa-apa, semoga dokter sekadar ingin menemui keluarga untuk melakukan tindakan yang membutuhkan persetujuan tanda tangan fisik…

Mas Iwan ternyata tengah on the way ke RSUD Dr Soetomo. Menurut suamimu, kemungkinan dokter memang hendak meminta persetujuan untuk tindakan tracheostomy, yaitu pemasangan ventilator melalui leher yang dilubangi. Itu karena ventilator tidak boleh lebih dari 7 hari terpasang di tempat sama (mulut), karena berisiko infeksi.

Maghrib tiba sekitar jam 18.55, jantungku rasanya terhenti membaca whatsapp dari mas Iwan, mengabari bila kamu tengah kritis. Tentu saja aku kaget setengah mati. Kok tiba-tiba kritis padahal sepertinya mulai membaik…

Aku tidak tenang ngapa-ngapain. Aku minta tolong pada suami untuk memegang anak-anak. Aku terus memandang nanar layar ponsel menunggu cemas kabar dari suamimu. Aku berdoa, Viet.. semoga kamu terus bertahan…

Sampai akhirnya, saat aku mau menidurkan anak-anak, mas Iwan menelpon dan membawa kabar menyedihkan itu. Kamu pergi untuk selamanya…

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun…

Aku histeris tak percaya…

Anak-anak yang bersiap tidur, kaget melihatku nangis tergugu. Suamiku coba menenangkan, tapi rasanya aku masih tidak karuan. Aku terguncang… badanku gemetar dan berkali-kali aku menyebut namaNya supaya tetap ingat. Aku kabari kakakku, mbak Uci, yang juga mengenalmu baik… ia langsung menelpon dan tangisku makin tak tertahan….

Sulit untuk ku percaya kabar itu, Viet…

Aku tidak bisa tidur semalaman… aku baru bisa tidur sekitar jam 3 pagi, itu pun karena ditenangkan oleh pelukan suamiku yang paham sekali mengapa aku sampai seterguncang ini…

Pagi datang, dan aku tak sanggup melakukan apapun. Aku masih tidak percaya. Anak-anak diurus oleh suamiku… aku menangis tiap melihat anak-anak, teringat anak-anak yang kamu tinggalkan… mereka seumuran… *bahkan menulis inipun airmataku kembali mengalir…

Badanku rasanya demam dan perutku mual seharian…

Sulit aku menerima kenyataan kalau kamu, sahabat yang aku kenal selama 20 tahun terakhir, pergi meninggalkan dunia ini… di usia yang masih terbilang muda…

19 Desember 2021

Fitur memories di Facebook memperlihatkan foto kita berdua memakai toga. Iya, setahun lalu aku memasang foto itu di FB, mengenang masa kuliah di UGM. Tanggal itu adalah Dies Natalis kampus kita tercinta. Kita wisuda bareng. Saking kompaknya, hehe. Lalu, ku share foto-foto wisuda lain lewat WA. Kamu seneng banget, kamu bilang foto-foto wisudamu ga jelas kemana gara-gara sering pindah-pindah rumah…

memori terakhir…

Siapa sangka, setahun kemudian kamu sudah tiada….

Lalu, aku teringat tulisan yang belum tuntas ini. Maka inilah. Aku coba tuntaskan kini, Non…

Seringkali aku mengingatmu. Sering aku sekadar membaca-baca lagi percakapan WA kita dulu, obat kangen. Iya, aku belum berkesempatan menengok rumah terakhirmu… Masih pandemi dan mobilitasku juga masih sangat terbatas. Sejujurnya, aku pun merasa tidak cukup punya ketataqan itu… Aku memilih mendoakanmu selalu dari jauh…

Kamu saksi perjalanan hidupku, terutama hidupku di Jogja kala itu. Kamu satu dari sedikit sahabat yang tahu aku sedari dulu. Masa-masa kita di Jogja, masa yang sangat berkesan. Cerita kita di Sintesa menjadi aktivis pers kampus, cerita kita ketika sama-sama sering membantu dosen di Jurusan, lalu mengikuti proyek riset di PSKK, sampai saat kita jungkir balik bareng ngerjain skripsi yang sudah malas sekali kita kerjakan, haha. Disambung lagi cerita tentang jatuh cinta, lalu kisah patah hati. Cerita kita tentang adaptasi menjadi seorang istri. Cerita menjadi ibu. Juga cerita dilema karir wanita yang telah menikah dan memiliki anak…

Walau setelah itu kita sangat jarang bersua lagi, hati kita selalu dekat. Kamu menikah lebih dulu. Aku tak bisa menghadiri karena waktu itu aku masih terikat masa magang menjadi jurnalis di sebuah media ekonomi di Jakarta sehingga tidak bisa cuti. Tapi, aku ingat kamu pernah menelponku lamaaa sekali kala aku tengah deadline di kantor, kamu mencurhatkan sesuatu… aku tulis itu dalam diary mayaku.

Ketika kamu mengandung anak pertama, kita sempat bertemu di Jogja. Aku yang tengah di titik rendah karena hati yang patah, seolah mendapat suntikan semangat besar melihatmu semakin bersinar dalam peran barumu sebagai calon ibu…

Kita sama-sama ibu beranak tiga. Bahka dua anak kita seumuran, padahal kita tidak pernah janjian hamil, hehe. Dimas, anak keduamu seusia Attar, anak sulungku. Sedangkan Bagas, bontotmu, unda undi dengan Aqshal, anak keduaku.

Kangenku, Non….

Terima kasih sudah menjadi sahabatku. Terima kasih sudah menjadi inspirasi. Semangatmu, sifatmu yang easy going, supel, hatimu yang entengan, tidak pernah mendendam, energimu yang seakan tak habis-habis, aktivisme dan kepedulian sosialmu… seorang sanguinis koleris dengan teman di mana-mana…

Bahkan dalam kepergianmu pun kamu masih menginspirasi dengan begitu banyak kebaikan. Di usiamu yang singkat itu kamu telah menebar manfaat melimpah pada banyak orang. Kamu telah menyentuh hidup banyak orang. Kamu orang hebat. Dan, aku bangga menyebutmu sahabatku..

Alfatihah untukmu, Non… Nyenyaklah dalam damai, dalam tidur panjangmu….

kamu di kamar kosku, bersama-sama melawan kemalasan ngerjain skripsi, hehe.
Di hari wisuda kita, kamu dan aku sama-sama tidak punya PW alias pacar. Akhirnya kita saling menjadi PW satu sama lain, haha.

Leave a Reply

Your email address will not be published.