Healing in Paradise: Cerita 4 Hari Liburan di Pulau Bali

Liburan bersama keluarga besar yang terlalu mengesankan untuk tidak diabadikan dalam tulisan.

Suatu siang, WA saya melempar notifikasi, pesan dari kakak lelaki saya. “Boleh saya telpon?” begitu isinya. Iya, kakak saya kalau di Whatsapp memang seformal itu, ga kayak aslinya, haha. Siang itu saya sedang istirahat karena badan masih sakit imbas chikungunya yang belum juga habis efeknya ke persendian. Lalu, kami telponan dan ternyata kakak saya berencana liburan keluarga ke Bali dan -bila saya bisa dan berkenan waktunya- kami sekeluarga juga akan diajak. Lhaaaa, ya tentu saja bisa, hahaha! Kerjaan saya dan suami masih WFA alias work from anywhere, hehe. Kalau untuk liburan 4 hari, bisalah kami libur tutup laptop dulu. Singkat cerita, sat set sat set tanggal kepergian sudah diketok demi mengejar tiket pesawat yang mulai membubung tinggi. Yang lebih wow lagi, liburan ini kami benar-benar cuma modal badan dong, haha. Baik banget, ya, kakakku! Semua transportasi, akomodasi hingga urusan perut di Bali sudah diurus dan ditanggung {semoga semakin barokah dan sukses usahanya, ya, kakakku sayang, amiiin}. Kakakku memakai jasa travel Smart Travel and Tour untuk mengurus semua keperluan di Bali.

Selang beberapa hari kemudian, di grup Whatsapp, dibagikan informasi itinerary. Semula kami mau menginap di sebuah vila di kawasan Sanur. Namun, kemudian diganti karena kalau Sanur dinilai terlalu jauh dari mana-mana. Lokasi vilanya terlalu secluded. Jadilah, tempat menginap akhirnya diputuskan di hotel di pusat keramaian Kuta. Tepatnya di Stark Boutique Hotel and Spa, Kuta. Untuk akomodasi, sudah tersedia bus pariwisata Hiba Utama, lupa kapasitasnya berapa, medium bus yang pasti. Kami 21 orang terdiri atas, 11 orang dewasa dan 10 anak-anak. Bisnya cukup leluasa untuk kami bercengkerama selama perjalanan berkeliling Bali.

Berikut itinerary liburan selama 4 hari 3 malam di Pulau Dewata:

Beautiful of Bali Island – Smart Package 4D3N

DAY 1
(L D)
Penjemputan di Bandara Int. Ngurah Rai
Pengalungan Bunga
Muntig Siokan Park Sanur
Lunch di Resto Wardani
Tanah Lot
Wisata Belanja Krisna
Dinner Warung Nasi Tempong Indra
Cek in Hotel

DAY 2
(B L D)
Breakfast
Water Sport Tanjung Benoa
Lunch di Warung Nasi Ayam Bu Oki
Pandawa Beach
Melasti Beach
Dinner Jimbaran Legong Cafe
Kembali ke Hotel / Villa

DAY 3
(B L D)
Breakfast
Bedugul
Danau Beratan
Lunch di Resto Ulun Danu (All U Can Eat)
Pod Coklat
Nonton Pertunjukan Tarian Kecak
Dinner Chariot Resto
Kembali ke Hotel / Villa

DAY 4
(B L)
Breakfast dan Check Out
Wisata Belanja Joger
Kuta Beach Photo Spot
Lunch di Laota
Perjalanan menuju Bandara
Dan Program pun selesai bersama kami SMART TOUR AND TRAVEL.

Fasilitas:
Transportasi selama di Bali (Bus Medium)
Driver dan Guide Local
Snack 1x
Breakfast 3x
Lunch 4x
Dinner 3x
Air Mineral 1 Botol / Day / Pax
Ticket Wisata
Biaya Parkir Tol dan BBM
Hotel STARK Boutique Kuta

Excited tentu saja! Melihat itinerary yang padat gizi begitu, haha. Lalu, dimulailah episode persiapan. Attar sudah selesai PAS dan tinggal farewell lunch bersama wali kelas dan wali murid sekelas, Aqshal persiapan pergi outbond persiapan wisuda TK. Praktis, persiapan sekitar 2 pekan saja. Fokus terutama adalah menjaga kesehatan anak-anak agar tetap fit terutama jelang hari-H. Saya agak nervous juga karena inilah traveling pertama kali kami tanpa mobil pribadi.

Tau sendiri, kan, kalau pergi-pergi memakai mobil pribadi kita relatif lebih santai baik dari jam keberangkatan maupun isi bawaan, hehe. Kali ini berbeda. Naik pesawat pagi flight jam 6, mengharuskan kami sudah harus standby di bandara jam paling telat jam 4.30. Belum lagi packing isi koper untuk 5 kepala. Akhirnya, saya jatahi per hari dua pasang baju sehingga total saya bekali 24 pasang baju. Dengan metode gulung baju, semua baju anak muat di satu koper, haha. Koper satu lagi, berisi baju saya dan suami, plus perlengkapan lain. Anak-anak juga kami bekali baju renang dan jaket (morning flight kuatirnya kedinginan di pesawat… walau ternyata ga sedingin dugaan, haha). Supaya simpel, Attar dan Aqshal saya kasi tas ransel sendiri yang berisi perlengkapan mereka: baju ganti, topi, kacamata, camilan, masker, hand sanitizer, air minum. Jadi, selama di Bali mereka bisa bawa perlengkapan sendiri.

Pekan jelang keberangkatan itu begitu padat. Acara sekolah anak-anak bergantian, ditambah lagi kami harus kontrol rutin ke dokter anak. O, ya, sebagai catatan, walau infeksi chikungunya sudah terjadi awal bulan Juni, hingga jelang tutup bulan, efek virus sialan ini masih timbul tenggelam. Kambuh-kambuhan. H-3 sebelum keberangkatan, saya kecapean usai mengantar Aidil kontrol ke DSA. Nyeri-nyeri di persendian kambuh lagi. Saya konsultasi lagi ke dokter ortopedi di Hal*doc dan memakan obat yang diresepkan. Ga sempet datang ke praktek dokter langsung. Tapi, obatnya kurang cespleng, nyeri-nyeri masih terasa menyakitkan.

26 Juni 2022

The day is come! Saya terbangun dari jam 2 dinihari, haha. Tidak bisa tidur lagi. Jam 3 kurang saya bangunkan anak-anak, ganti baju -tidak usah mandi, wkkk, mandinya udah dari sore sebelum tidur. Semua koper dan ransel sudah di lantai bawah. Aidil baru kami bangunkan setelah kami semua siap. Saya memesan taksi BlueBird dari aplikasi dan orangnya datang tepat waktu. Jam 3.30 kami meluncur ke bandara. Alhamdulillah, rumah kami tidak jauh dari Soetta. Ditambah ada jalur tol baru dekat rumah, cepet aja nyampe bandara tanpa halangan berarti. Surprisingly, bandara ramai sekali! Situasinya mengingatkan saya pada bandara di musim mudik. Pandemi membuat orang berlomba “revenge vacation” alias balas dendam piknik, hehe.

Sampai di bandara, kami check-in. Semula kami dijadwalkan naik Lion Air. Namun, sehari sebelum keberangkatan, penerbangan kami diganti ke Super Air Jet, sister company Lion Air. Maskapai yang baru buka tahun 2021. Di bandara, kami bertemu rombongan keluarga kakak dan adik saya yang meluncur dari Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Kami sempatkan sholat shubuh di bandara. Alhamdulillah, jadwal penerbangan tepat waktu. Pesawatnya bagus! Airbus dan kelihatan masih gressnya dengan warna khaki dominan. Penampilan para pramugari juga Gen Z banget, hehe. Tidak sesempit Lion, atau itu hanya perasaan saya saja, hehee. Saya menempati baris bersama Aqshal (deket jendela), Aidil dan saya. Suami di row sebelah. Selama penerbangan, Aidil tentu saja saya pangku dengan seatbelt tambahan. Sedang Attar ikut di barisan belakang bersama kakak dan 3 keponakan saya. Setelah puas melihat pemandangan di luar pesawat, Aidil dan Aqshal tidur pulas selama penerbangan. Ini menjadi pengalaman pertama Aidil naik pesawat. Sedangkan Aqshal dan Attar sudah beberapa kali saya bawa naik pesawat saat usianya masih kecil, jadi dia juga tidak ingat.

Kami mendarat di bandara Ngurah Rai sesuai jadwal. Di sana, rombongan dari Gresik (kakak saya, adik dan ibu saya juga ibu mertua kakak), sudah lebih dulu mendarat. Senang sekali bertemu keluarga besar dan kali ini berbeda suasana tidak saat mudik dan di Gresik, melainkan di Bali, haha.

Pak Tio, pemilik Smart Tour, bilang, rencana awal ke Muntig Siokan Park Sanur batal, karena jalan menuju kesana ditutup akibat ada event maraton internasional. Agar jadwal tetap efisien, kemudi sopir mengantar kami ke Khrisna. Haha, masih jetlag lalu belanja itu rasanya agak pusing, ya bun! Jadilah kami muter-muter aja di Khrisna ngabisin duit, wkkw. Setelah puas berbelanja, kami beringsut makan siang ke Resto Wardani. Namun, si bontot saya, out of the blue sepulang dari Khrisna, badannya sumeng. Duh, ada-ada aja! Kami berusaha tetap ceria dan optimistis itu hanya sumeng sementara karena Aidil bangun terlalu pagi. Bodohnya saya adalah tidak membawa obat penurun panas saking pede anak-anak sudah dalam kondisi terbaik. Itulah. Jadilah, si bocah kami peluk aja dan beri minum yang banyak. Usai makan siang, kami sholat di mesjid terdekat. Setelah itu ada insiden si Aqshal menghilang, haha. Saat semua orang kembali ke bus, entah kenapa ini bocah balik ke restoran -yang memang hanya berjarak sekian meter dari mesjid. Untung juga dia pakai baju kuning, jadi mudah ditemukan. Ada-ada saja.

Selanjutnya kami bergeser ke Alas Kedaton, bertemu monyet-monyet lucu. Di sini, kami memanfaatkan jasa foto spesial berkostum keluarga Bali. Seruuuu!! Per lembar foto dibanderol Rp70.000, langsung cetak. Kami berfoto dengan memegang kelelawar raksasa. Tumben lho saya berani pegang binatang!! Jadi, suami saya tawarin untuk pegang, biar saya gendong Aidil. Eh, dia tidak mau. Ya udah, saya beranikan diri jadi pemegang kelelewar, haha. Seru di sini!

Lanjut ke Tanah Lot, kami puas berfoto-foto dan mengagumi keindahan obyek wisata terkenal ini. Ramai sekali, bun! Wisatawan domestik dan manca tumplek blek. Sayang kami tidak mendapat sunset karena langit Bali tertutup mendung. It’s ok. Anak-anak bermain air, cari kerang dan menikmati ombak yang cukup tinggi menyapu sepatu-sepatu kami, haha. Aidil pun saya biarkan bermain air. Pulang dari Tanah Lot jelang maghrib menuju Tempong Indra. OMG ternyata jauh banget tempatnya. Kaki rasanya sudah cenut-cenut nyeri pengen selonjor. Dua jam kayaknya jaraknya. Begitu sampai di warung makan terkenal itu, ramai sekali, ya, haha. Bali pulih dan terasa banget peak season-nya! Makanannya enak, ayamnya gede, sambelnya mantap.

Sesampai di hotel, kami check-in dan tubuh rasanya rontok, wkk. Sebagian besar karena kepikiran kondisi Aidil yang mendadak sakit begini. Duh. Attar maunya tidur bareng sepupu-sepupunya di lantai 4 hotel. Di lantai 1, kami menempati 4 kamar (saya dan suami, Aidil dan Aqshal, lalu ibu dan adik saya, kakak perempuan saya dan suami dan adik saya sekeluarga). Kamar hotelnya cakep. Style industrial minimalis gitu. Ada welcome dessert berupa cheese cake dan chocolate pudding. Cukup luas, tapi tidak muat bila diberi extra bed. It’s ok, tho. Catatan lain adalah, air panas untuk mandi kurang panas. Jadi, mandi air hangatnya beneran suam-suam kuku gitu.

O, ya, Aidil akhirnya aku kasi termorex untuk menurunkan panasnya. Tapi, tidak mempan, dong. Jadilah, saya mengompresnya semalaman, haha. Lumayan bisa membantunya tidur nyenyak.

27 Juni 2022

Hari kedua dan temanya adalah bermain air! Yay! Aidil sudah menurun demamnya walau masih lesu. Badan saya masih ga karuan kombinasi dari kaki dan persendian yang nyeri, kurang tidur karena terjaga semalaman ngompres si bocah. Semua letih dan cemas itu harus saya singkirkan jauh-jauh. Saya ingin menikmati liburan ini, segimanapun dramanya. Beruntung, Aidil sudah mau makan walau belum normal porsinya. Suami membelikan parasetamol merek lain yang lebih cespleng untuk berjaga-jaga. Tujuan pertama ke Tanjung Benoa. Naik kapal boat. Cakep sekali pemandangan, ya. Langit biru jernih diwarnai awan putih. Angin bergulung-gulung. Kami menyeberang ke Pulau Penyu, tempat penangkaran penyu laut. Lalu, anak-anak naik banana boat bersama pakde-pakdenya. Saya berbagi tugas sama suami. Saya urus dua anak dan Aidil digendong suami saya karena dia masih rewel ngrenyeng. Begitu merasa enak dikit, si bocah langsung bermain pasir, hehe.

Usai dari Tanjung Benoa, kami bergeser ke Melasti Beach. Gils, cakep banget pantainya! Biruuuuuu, jernihhhhh… duh, tak terlukiskan dengan kata-kata. Pantai ini sebenarnya masih sejajaran dengan Pandawa Beach. Surga pantai yang berada di balik pegunungan kapur. Jadi, untuk mengaksesnya, penduduk Bali di sekitar membelah gunung kapur itu selama 10 tahun! Bagus banget, sis. Di sisi kiri jalan bertengger patung-patung Pandawa yang super besar.

Anak-anak puas bermain pasir di Pandawa. Gulung-gulung sepuasnya di pasir. Usai berenang, makan popmie dengan rakus bareng-bareng, haha. Apa kabar kaki saya? Ya Allah, sakitnya makin luar biasa, hahah. Kaki mulai bengkak. But again, I may have broken legs, but not broken spirit! Hahah. Jalan di pasir nan lembut itu menjadi usaha yang keras karena sesakit itu menopang tubuh obesitas saya, haha. Aidil masih sumeng dan di perjalanan menuju tempat makan malam, aku memberinya parset yang alhamdulillah cespleng. Dia tidur nyenyak dan demamnya turun! Alhamdulillah.

Malam itu kami tutup dengan makan spesial di tepi pantai di Jimbaran. Lengkap dengan iringan musik live dan bau pantai yang mengundang… menunya apa? Setelah sebelumnya ayam terus, akhirnya ketemu seafood!

28 Juni 2022

Menilik itinerary, seharusnya kami dijadwalkan melihat tarian Kecak di malam hari. Namun, setelah dipikir-pikir, lebih asyik nonton pertunjukan tari di pagi hari ketika kami masih segar dan wangi, eeaa. Jadilah, tujuan pertama adalah meluncur ke Seraya Budaya Singapadu, Gianyar untuk menikmati pertunjukan Barong Dance. Datang telat karena kaki saya yang tertatih-tatih ini nyatanya justru membawa keberuntungan, haha. Iya, saya mendapat tempat duduk VIP persis di depan panggung, wkkk. Bersama suami, Aidil, Aqshal, mbak Vita dan mas Luqi. Seru banget melihat Barong Dance. Bali memang mempesona ya… tidak heran orang tidak akan pernah bisa puas hanya sekali saja mendatangi Pulau Dewata ini.

Puas menonton Barong Dance, kami segera meluncur ke Bedugul. Saya pernah kesini saat study tour SMA dulu. Seingat saya tempatnya dingin sekali dan saya turun dari bus dengan rasa mual karena jalanan berkelok-kelok. Tapi, kemarin ternyata tidak terlalu dingin dan tidak lagi mual, haha. Aidil minta naik bebek-bebekan menyusuri Danau Bratan. Saya dengan PD-nya mau ikut mengayuh bebek-bebekan juga. Haduh. Suami bersama Attar, Aqshal dan Aidil. Sedang saya bertiga bersama dua keponakan cantik saya, Kinar dan Dinda. Ampun, ini keputusan yang saya sesali sebenarnya, haha. Why? Pertama, kaki saya masih sangat sakit, haha. Gimana ceritanya mau mengayuh bebek? Kedua, saya ini takut air, wkk. Ketika perahu bebek makin ke tengah terbawa angin, saya makin panik mengendalikan setir, hahah. Kacau deh! Apalagi isi muatan tidak imbang. Terlalu berat di sisi saya yang emang obesitas ini, wkkk, jadi perahu kayak mau ngguling gitu, lho (kebayang gak? haha). Alhasil, jatah 20 menit tidak saya habiskan karena saya ketakutan, khawatir tenggelam dan keburu panik duluan. Duh, kasihan deh keponakan saya jadinya karena cuma sebentar naiknya, hihihi. Sesi naik bebek berakhir dengan otot paha saya kram.

Abis dari Bedugul, kami merapat ke Pod Coklat. Semula kami mengira, kami akan mendatangi kebun coklat lalu pabriknya dan toko. Ternyata, tidak ada kebun coklatnya. Kami mendatangi toko mirip cafe gitu di mana di bagian belakang, para pengunjung bisa melihat proses pengolahan coklat (hanya dari kaca jendela, sih). Di sini, pengunjung bisa mencicipi banyak tester coklat sebelum memutuskan membeli. Ada sekitar 22 tester coklat. Mulai dari rasa caramel, peppermint, seasalt, dan sebagainya. Saya sempat mencicipi biji coklat asli. Pahit tapi enak, tidak sepahit biji kopi. Saya memesan coklat hangat dan membeli coklat batangan dengan kandungan 80% cocoa. FYI, saya memang penggemar coklat asli, semakin pahit semakin suka.

Aidil sudah tidak demam, namun dia masih rungsing. Ndilalah demamnya itu karena dia muncul gigi dong! Pipinya juga ikutan bengkak. Saat di Pod Coklat, suami memutuskan di dalam bis saja karena Aidil sedang tidur nyenyak. Kasihan kalau dibangunin. Jadi, kami bergantian turun. Saya belikan suami coklat hangat sukaan dia dan bergantian menggendong Aidil di dalam bis.

Setelah itu, kami meluncur ke Kuta. Dinner di restoran Chariot. Restoran ini tipikal restoran di Jabodetabek sebenarnya. Berbeda dengan tempat makan sebelum-sebelumnya yang bernuansa tradisional dan Bali banget. Di Chariot lebih mirip cafe estetik khas Jaksel, hehe. Banyak spot asyik buat foto-foto. Saat kami datang, udah kayak private restoran aja, ga ada pengunjung lain. Sajiannya gimana, bun? Blackpepper beef-nya juara!!! Sumpah, enak banget. Dagingnya lembut dan lada hitamnya terasa sampe ke bawah lidah, eeaa.

Malam itu, sebenarnya kami ingin melanjutkan jalan-jalan ke Legian, Kuta… Namun, apa daya, situasi kaki tidak memungkinkan. Suami juga mulai masuk angin gegara kelamaan ngayuh bebek di Bedugul, wkkkk. Syukur alhamdulillah, Aidil sudah tidak demam dan tidur nyenyak. Alhamdulillah juga di masa muda dulu (eeaa), saya dan suami sudah beberapa kali ke Bali untuk dinas as a journalist, jadi jalan-jalan ke pantai Kuta tidak lagi menjadi sesuatu yang harus kami penuhi.

29 Juni 2022

Hari terakhir kami di Pulau Dewata. Gerimis dari Shubuh. Anak-anak dari semalam sudah ribut mau berenang di pool rooftop hotel. Sampai-sampai jam 5.17 mereka ketok pintu saya, dong. FYI, jam segitu di Bali belum shubuh! Haha. Bahkan itu di Jakarta masih jam 4 pagi, astaga ini bocil bocil pada semangat amat, deh, wkk. Aku suruh mereka tidur lagi. Dan hujannya ternyata awet sampai jam 7-an. Baru setelah sarapan, anak-anak berenang di lantai atas hotel. Lalu, kami check-out hotel dengan bawaan yang menggembung, haha.

Hari ini jadwalnya adalah belanja ke Joger dan mungkin mampir lagi ke Khrisna. Semula ada jadwal untuk makan siang di Laota. Namun, karena khawatir terlambat ke bandara, akhirnya kami makan di bus saja. Di Joger, saya tidak belanja banyak. Simply karena di sana terlalu ramai sampai saya pusing, haha. Tidak bisa memilih barang dengan nyaman. Lagian, kaki saya makin bengkak dan sakit sekali setiap mengayuh langkah. Bergeser ke Khrisna, saya sempatkan membungkus oleh-oleh dalam kardus agar bisa dimasukkan ke bagasi. Di sini, belanja lagi, dikit, wkk. Lalu, makan siang dan meluncur ke bandara.

Bandara Ngurah Rai ramai banget!! Hepi deh melihat kehidupan Bali kembali bangkit setelah dua tahun terpukul pandemi… Kami menumpang pesawat Lion Air dan ada delay sekitar 1 atau 2 jam dari jadwal. Alhamdulillah safe flight, selamat sampai di Soetta persis jam 17.30, jelang maghrib.

Empat hari, tiga malam di Bali menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Terima kasih terbesar tentu untuk kakak lelaki saya tercinta dan mbak Vita yang sudah mengajak dan mengurus semuanya dari nol, semoga rezekinya makin diluaskan dan berkah selalu!

Ada rasa haru mendapati binar bahagia para penjual suvenir, para guide tour juga driver, seiring Bali yang kembali pulih…. O, ya, selama tur keliling Bali, ada dua tour guide. Hari pertama, kami dipandu oleh Mbok Ketut. Sedang hari kedua dan selanjutnya dipandu oleh Mbok Wayan Parwati. Mbok Wayan ini kocak banget orangnya, haha. Sangat informatif, sering melempar joke-joke segar yang kebanyakan adult jokes, wkkk. Perjalanan dari satu kawasan wisata ke titik lain menjadi lebih berisi dan renyah. Kami jadi banyak belajar hal baru tentang Bali dan budayanya begitu indah dan kaya.

Bali, we’ll be back someday! Insyaallah.

Empat hari, tiga malam, yang terlalu indah dan berkesan untuk tidak saya abadikan dalam tulisan. Semoga kelak anak-anak saat membacanya akan teringat pengalaman mereka berlibur bersama saudara-saudara mereka, penuh rasa cinta, kebersamaan dan kebahagiaan.

“Family is your biggest gift and the most precious treasure” || Big Fam Vacation Trip to Bali, June 2022: A million moments to cherish and billion memories to remember.

PS: Sehari setelah pulang dari Bali, saya langsung ke dokter ortopedi di rumah sakit di depan komplek rumah. Kaki saya bengkak dan mulai kemerahan, nyerinya bahkan sudah menjalar ke lengan/tangan karena di pesawat saya menggendong Aidil tidur cukup lama. Oleh dokternya diperiksa seksama dan diagnosisnya masih sama, yaitu masih efek chikungunya dan tidak ada yang bisa memastikan efek itu akan bertahan sampai kapan. Dokter meresepkan obat pereda bengkak, obat pelemas otot dan pengurang nyeri. Langsung saya minum obatnya malam itu juga.

Alhamdulillah, magic happen, wkk. Pagi harinya nyeri-nyeri langsung hilang dan lebih ajaib lagi karena saya bisa kembali sholat dengan posisi normal!! Tadinya saya hanya bisa sholat sambil duduk ataupun saat mencoba posisi normal, saya kesulitan bangkit dari sujud, kesulitan juga saat turun bersujud dan sama sekali tidak bisa posisi duduk di antara dua sujud. Berkat obat dari si dokter muda ini, sekian hari ini saya bisa kembali beraktivitas normal dan bisa sholat dengan nyaman. Alhamdulillah! Saya masih harus kontrol lagi saat obatnya habis karena ada obat pereda bengkak tidak bisa disetop tiba-tiba… but so far, setelah sebulan lamanya terganggu nyeri chikungunya, i never been felt so healthy and fit as today! Semoga usai di sini, ya, efek chikungunya itu, cukup tahu! Hahaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published.