DiaryJourno LifeLifeParentingWorking Mom

Pengalaman Menyusui Hingga 7 Tahun: Keras Kepala Itu Koentji

Menyusui ternyata butuh kerja keras dan kekeraskepalaan khusus agar bisa berhasil seperti harapan. Ini cerita pengalaman saya menjadi ibu menyusui selama 7 tahun.

Pandemi ini memberi saya banyak waktu luang untuk menata rumah yang memang belum sempat ditata dengan serius pasca selesai direnovasi. Salah satu yang belum tersentuh sama sekali adalah foto-foto. Dinding rumah hanya ada foto pernikahan kami, memakai pakaian pengantin. Selebihnya, hanya pigura-pigura kecil berisi foto anak-anak. Area tangga yang sejak mula diniatkan menjadi galeri foto, akhirnya terhenti menjadi jejeran pigura saja tapi fotonya belum juga dicetak, hahaha. Bukan apa-apa. Susah ternyata memilih ribuan foto yang bisa mewakili perjalanan keluarga kami sewindu terakhir… akhirnya, saya perlu ekstra waktu untuk menyortir foto mana yang hendak saya cetak.

Nah, apa hubungannya itu semua dengan judul tulisan ini? Heheheh. Jadi, ceritanya, saya banyak melihat lagi foto-foto saat saya tengah menyusui anak-anak. Momen yang spesial. Momen saya resmi menjadi ibu menyusui sejak 7 tahun lalu hingga detik ini. Trus jadi ingin mendokumentasikan pengalaman menyusui itu melalui tulisan.

Tiga anak lelaki, alhamdulillah semua bisa saya berikan ASI. Anak pertama, hanya 17 bulan mendapatkan ASI karena “sundulan” dan saya mengalami plasenta previa totalis yang memicu perdarahan. Anak kedua yang lahir prematur, mendapatkan ASI hingga 29 bulan (susah banget menyapihnya, wkwk). Kini, saya pun masih menjadi ibu menyusui untuk bayi saya yang masih berusia 14 bulan. Insyaallah saya ingin memberikan ASI hingga 24 bulan usia si bontot.

Bicara tentang fase menyusui anak, harus diakui ternyata menyusui itu tidak semudah dugaan saya kala belum menjadi ibu. Saya mengira, menyusui itu akan terjadi alami begitu saja dan otomatis bisa. Ternyata, ya, tidak juga, hehe. Ini baru saya pahami ketika sering membaca-baca tentang serba serbi menyusui di grup AIMI ASI, atau di sumber-sumber lain. Untung saja, saat hamil, saya sempat membaca perkara ini. Jadi, sedikit banyak ada persiapan mental setidaknya.

Boleh dibilang, saya memang beruntung karena mendapatkan banyak kemudahan dalam proses menyusui anak-anak, sejak hari pertama. Nyaris tanpa drama berarti. Sejauh saya inget, cuma ada drama-drama seperti ini:

1. Telat pumping jadinya badan demam dan PD bengkak. Solusi: kompres pakai kubis, minta dikerokin suami, dan terus disusukan ke bayi. Alhamdulillah langsung pulih. Kejadian bengkak ini biasanya saat bayi masih kecil hingga kebutuhan minumnya masih sedikit sedangkan produksi ASI masih sangat banyak jadi tidak boleh telat pumping.

2. Drama argumen sufor dengan DSA kala anak kedua harus di NICU. Pernah saya ceritain di blog ini juga, hehehe.

3. Drama harus menyapih anak pertama saya, Attar, lebih cepat karena perdarahan kehamilan. Ini sedih banget. Niatnya bisa tandem breastfeeding, apa daya plasenta previa membuatku tidak punya pilihan…

4. Tantangan kala harus dinas overseas. Pernah suatu ketika, Attar saya tinggal pergi ke Shanghai, China. Usianya keknya masih 5 bulan, masih ASI eksklusif. Saya mendapat fasilitas menginap di Le Meridien, hotel bintang lima. Lucunya, kulkasnya ga dingin! Kulkas kecil itu, lho. Stress dong, ya. Mana pas nyampe hotel, saya sudah bawa 2-3 botol ASI perah yang sempat saya perah saat di Changi. Minta tolong customer service untuk menaikkan suhu kulkas juga PR banget. Di sana ga ada yg bisa bahasa enggres. Akhirnya dengan bahasa tarzan dan bantuan aplikasi terjemahan China-Inggris, saya bisa menitipkan botol-botol ASIP itu di dapur hotel yang punya kulkas lebih dingin. Begitu juga kala liputan seharian di luar, jadwal pumping tidak boleh lewat, kan. Saya tetap memerah ASIP dan menitipkannya ke kulkas komersil yang isinya minuman-minuman dijual itu, lho, wkkwkw.

5. Drama ASIP ditahan di bandara Shanghai. Hampir aja ASIP satu cooler bag itu tidak dibolehin masuk ke pesawat, hiks. Thanks to Urban Mama, saya sudah antisipasi kejadian ini dengan berbekal surat keterangan tentang ASIP dan berusaha menjelaskan apa yang saya bawa tersebut (lagi-lagi dengan bahasa tarzan, wkwk.. karena di sana jarang yang bahasa Inggris, apalagi bahasa Jawa, LoL). Akhirnya, bisa lolos dengan surat tersebut dan bicara dengan petugas bandara yang perempuan.

6. Memerah ASIP di atas pesawat. Trauma telat pumping yang bikin badan meriang dan sakit banget, jadilah saya tidak berani melewatkan jadwal memerah ASIP. Di atas pesawat perjalanan Shanghai-Jakarta, saya memerah ASIP 2x. Bersebelahan dengan penumpang lain, laki-laki pula, kursi kelas ekonomi, kebayang, kan, sempitnya, haha. Saya memakai apron tentu saja. Karena penerbangan masih lama, saya menitipkan ASIP itu ke kulkas di dapur pesawat.

Dari pengalaman selama 7 tahun menyusui itu, pada akhirnya saya memafhumi bahwa keberhasilan atau kelancaran seorang ibu menyusui anaknya bukan hanya bergantung pada satu-dua faktor saja. Ada banyak hal yang sangat mempengaruhi, di antaranya:

Pertama, bekal pemahaman yang tepat seputar breastfeeding. Thanks to internet, hari gini kita bisa akses langsung sumber-sumber kredibel di mana para ibu bisa banyak mencari bekal ilmu seputar menyusui. Ya, jangan dikira menyusui itu bisa langsung lancar gitu aja. Setiap ibu perlu memiliki bekal pemahaman yang tepat supaya tak mudah terombang-ambing di tengah cobaan dan badai, hehe. Misalnya, nih, dalam menghadapi mitos-mitos, komentar-komentar sekitar, juga saat menghadapi kesulitan dalam proses menyusui, dsb. Manfaatkan waktu selama hamil untuk cari ilmu, kalo perlu ambil kelas menyusui… jadi pas udah mbrojol, kita udah siap menghadapi medan pertempuran, hehe.

Kedua, kehadiran support system yang kuat. Perlu sekali kita mengkomunikasikan sedari awal pada support system bahwa kita berniat menyusui bayi dengan ASI, dan bahwa kita butuh dukungan mereka. Suami idealnya menjadi supporter utama (makasih beib Teguh Firmansyah you’re the best!). Lalu, orang tua/mertua tentu saja. Juga, pengasuh yang akan membantu kita mengasuh bayi bila memang memakai jasanya. Satu hal yang sangat penting juga, jangan lupa menegaskan pada nakes di mana kita melahirkan, bahwa bayi kita minum ASI dan haram hukumnya memberi mereka botol dot!

Banyak sekali pengalaman teman dan kerabat yang gagal menyusui karena bayi terlanjur kenal dot. Termasuk pengalaman kakak perempuan saya dengan anak pertamanya dulu. Botol dot memicu bingung puting, menurunkan produksi ASI dan ujung-ujungnya bayi berhenti menyusui.

Ketiga, menata ekspektasi dan menerapkan stress management yang baik. Memiliki target itu penting, tapi tata ekspektasi dengan memasang target secara bertahap. Yang terpenting itu, fokus dan lakukan ikhtiar terbaik. Misalnya, di awal, pasang target menyusui minimal 6 bulan. Begitu itu tercapai, kita bisa tingkatkan ke 12 bulan dan seterusnya. Stress management juga sangat penting. Begitu ibu stres, ASI mampet, bok, hehe. Don’t sweat the small stuff! Omongan dan komentar orang yang ga penting, cuekin saja. Omongan yang menurunkan semangat menyusui, abaikan juga. Fokus pada bayi saja dan diri kita sendiri. Banyak kasus juga di mana yang meruntuhkan semangat itu justru keluarga sendiri.. apakah itu ibu, mertua, atau bahkan suami. Ya, memang tidak mudah, sih, saat menghadapi itu. Tapi, pilihan kita cuma satu: cuekin, tidak usah ditanggepin. Kalau kewalahan ngejawab, ajakin aja ke dokter anak atau ahli laktasi 🙂

Keempat, menyusuilah dengan keras kepala. Kata lainnya, niat kita harus sangat kuat. Ini magic banget, sih, hihi. Yakini bahwa setiap ibu PASTI MAMPU menyusui. Payudara diciptakan, ya, terutama sekali adalah untuk memberi susu pada bayi. Yakin bisa. Yakin cukup. Optimistis. Itu kuncinya. Emang terdengar kayak ambisius banget, ya..padahal, kan, menyusui itu hanya satu dari sekian banyak tahap never ending journey as a mother. Kalau sampai gagal menyusui, bukan berarti gagal jadi ibu, kan….

Iya memang! Cuma, kalo kita percaya ASI adalah yg terbaik, ya, apa salahnya ikhtiar maksimal, kan? Zuzur, begitu prinsip “menyusui dg keras kepala” ini aku terapkan, aku bisa lebih fokus, bertekad bulat dan bisa cuek menghadapi hal-hal yang “mengganggu”.

Kelima, bangun mindset yang tepat. Menyusui itu bukan sekadar memberikan hak anak, tapi bagi saya sudah menjadi kebutuhan penting. Sebagai working mom, menyusui adalah kesempatan berharga bagi saya agar tetap bisa membangun bonding nan erat kendati sering meninggalkan anak bekerja. Jadi, bukan “saya wajib menyusui anak saya” melainkan “saya butuh menyusui anak saya”.

Nah, selain 5 hal itu, ada banyak privilese yang juga mempengaruhi kelancaran serta keberhasilan seorang ibu dalam menyusui. Saya menyebutnya privilese karena tidak semua ibu memilikinya. Misalnya, anatomi payudara yang “kurang menguntungkan”, seperti flat nipple atau payudara terlalu kecil, dan sebagainya. Eh, tapi itu semua bukan akhir dunia, bun. Semua ada solusi. Nipple puller untuk kasus flat nipple. Payudara kecil? Kabar baik bagi kita, banyak sedikitnya produksi ASI ga ada hubungannya dengan ukuran payudara, sis!

Tantangan lain yang juga tidak remeh adalah bagi working mom yang kurang mendapatkan dukungan di tempat kerja. FYI, di Indonesia sudah ada regulasi yang mewajibkan setiap perusahaan menjamin hak bayi mendapatkan ASI, lho. Lupa UU nomer berapa. Yang pasti, artinya ibu berhak mengambil waktu kala bekerja untuk memerah ASIP. Perusahaan juga wajib menyediakan tempat khusus untuk memerah ASIP secara nyaman.

Privilese lain yang juga tidak semua dimiliki ibu adalah lama cuti kelahiran. Di Indonesia masih 3 bulan doang cutinya. Cilakanya, di banyak perusahaan, banyak ibu hamil yang wajib cuti mulai 1,5 bulan sebelum due date. Alhasil, ketika bayi masih 1,5 bulan, ibu sudah harus kembali bekerja. Ini sangat dilematis dan berat bagi ibu-ibu. Adaptasi masih terlalu singkat, urusan menyusui juga belum tentu udah lancar. Ujung-ujungnya banyak yang akhirnya menyerah… huhuhu… Saya termasuk beruntung boleh ambil cuti 2 pekan sebelum lahiran, sehingga punya waktu lebih lama bersama bayi sebelum akhirnya kembali ngantor (walau tetep, sih, kurang lama, hiks). Moga kelak aturan cuti lahiran bisa 6 bulan, ya, sehingga bayi setidaknya bisa mendapat ASI eksklusif dan ibu punya cukup waktu menyiapkan bekal ASIP sebelum kembali “ngantor”.

Itulah…

Perihal menyusui pada akhirnya memang bukan sekadar isu personal. Ada banyak faktor yang mempengaruhi berhasil/tidaknya seorang ibu menyusui, perlu kerja tim juga dan dukungan sistem. Anyway, perjalanan saya menjadi busui juga masih lama, setidaknya hingga si bontot berusia 2 tahun kelak. Sejauh ini tantangan lebih ringan karena saya kini lebih sering bekerja dari rumah.

Lastly, bagi ibu-ibu yang hendak menyusui atau tengah menghadapi tantangan dalam menyusui, semoga dimudahkan, ya. Tetap semangat dan sekali lagi, “menyusuilah dengan keras kepala”. Lalu, biarkan Tuhan membantu sisanya 🙂

Semongko, sis!!

keep calm and carry on breastfeeding
Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *