jastip tipu-tipu

Jastip Tipu-Tipu Menelan Korban Miliaran Rupiah: Waspadai Penipuan Jastip Skema Ponzi

Aksi penipuan skema ponzi berkedok jastip alat rumah tangga menelan korban dengan kerugian hingga miliaran rupiah. Hati-hati, bun!

Media sosial beberapa hari ini dihebohkan oleh skandal penipuan berkedok jastip alias jasa titip. Korbannya ratusan orang, utamanya ibu-ibu yang sudah lama berkecimpung di bisnis sebagai personal shopper alias jastip, juga para konsumen yang kena jebak. Nilai kerugiannya bukan kaleng-kaleng, disinyalir sudah mencapai lebih dari Rp20 miliar! Wow.

Membaca kronologis yang disampaikan di Instagram para korban, postingan di Facebook dan Twitter, terlihat penipuan jastip ini berbau skema ponzi. Jadi, si oknum yang mengaku mendapat barang dari supplier tangan pertama (pabrik), menawari barang elektronik rumah tangga dengan harga miring. Ia mengajak beberapa orang (jastiper level 1) di empat kota untuk ikut mempromosikan tawaran barang ini yaitu oven. Empat orang ini lalu menawarkan lagi pada pemilik bisnis jastip lagi untuk ikut menawarkan ke grup-grupnya. Di bawah empat orang ini ada banyak sekali grup jual beli ibu-ibu, yang memang selama ini terbiasa berjual beli.

Penawaran barang dilakukan dengan sistem open PO (purchase order). Sistem ini berarti, barang baru akan tersedia beberapa minggu atau bulan ke depan. Sedangkan pembayaran diminta di depan (kurang jelas apakah memakai uang muka dulu atau langsung diminta full payment). Orderan awal ini berjalan mulus, barangnya datang beneran. Kepercayaan pun diraih.

Konsumen yang membeli hepi karena berhasil mendapat barang dengan harga murah. Para jastiper apakah dia level 1 atau level 2 dan seterusnya, juga ikut hepi karena dapet untung. Setelah kepercayaan dikantongi, si oknum mulai beraksi. Ia kembali menawarkan orderan dengan sistem sama yaitu sistem PO, namun kali ini harus dengan pembayaran penuh (full payment) di awal. Nah, ibu-ibu reseller alias jastip di bawahnya juga bersemangat mempromosikan.

Sistem jual beli PO atau jastip begini sudah lazim banget di dunia ibu-ibu, terutama mamak-mamak yang mencari cuan lewat WA grup. Jadi, kita nitip beli barang ke seorang jastiper (yang terhubung dengan supplier, entah tangan pertama atau tangan kelima), di mana barangnya baru tersedia beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan ke depan. Umumnya, para jastiper ini meminta uang muka (DP) untuk mengikat keseriusan pembeli. Jadi, saat nanti barang datang, si pembeli tinggal melunasi sisa pembayaran. Beberapa jastip malah tidak mensyaratkan DP apapun. Jadi, memang 100% mengandalkan rasa saling percaya antara penjual dan pembeli saja.

Sistem PO dengan bayar penuh di depan?

Dalam kasus penipuan ini, si oknum meminta pembeli membayar penuh di depan dengan janji kedatangan barang sekitar 1-2 bulan. Mungkin ada banyak yang bertanya-tanya: “Lha kok percaya-percaya aja, sih, beli barang bayar duluan 100% dengan janji barang menyusul datangnya tanpa jaminan apa-apa?” – Di sinilah keculasan itu terjadi: si oknum memanfaatkan para penyedia jastip yang sudah cukup punya nama karena memang sudah bertahun-tahun menggeluti bisnis jastip sehingga pelanggannya juga bejibun (pelanggannya bisa seorang reseller (menjualnya lagi ke pasar) atau konsumen end user). Iming-iming harga murah juga membuat banyak yang silap mata.

Lalu, seperti umumnya skema ponzi, piramida penipuan ini perlahan mulai runtuh lalu ambruk berantakan. Barang yang dijanjikan tidak kunjung datang ke konsumen yang sudah membayar. Para reseller atau jastip level 2, 3 dan seterusnya kelabakan, kalang kabut mempertanggungjawabkan orderan ke konsumen di bawahnya. Beberapa di antaranya terpaksa nombok mengembalikan uang para konsumen demi menyelamatkan reputasi bisnis jastipnya. Para pemilik bisnis jastip merasa ditipu oleh reseller di atasnya. Reseller juga merasa ditipu oleh reseller di atasnya. Padahal, ya, sama-sama korban. Persis skema piramida. Penipunya ada di pucuk piramida. Si oknum di pucuk piramida ponzi ini menghilang bak ditelan bumi setelah berhasil menggondol duit puluhan miliar rupiah.

Apa, sih, sebenarnya bisnis jastip itu?

Jastip berasal dari kata “jasa titip”. Sebenarnya ini sistem bisnis biasa. Bedanya adalah, barang yang dijual biasanya tidak langsung tersedia. Kita beli barang A di penjual B, namun barang tersebut baru tersedia nanti (biasanya seminggu atau sebulan ke depan, kadang sampai berbulan-bulan. Namun, informasi KAPAN ini biasanya diungkap di awal). Pembeli diminta memberikan uang muka dulu sebagai tanda keseriusan membeli. Kadangkala ada juga yang tanpa DP. Seringkali juga ada yang meminta full payment di depan. Sistem open PO ini digemari ibu-ibu karena biasanya barang yang ditawarkan sedikit lebih murah. Kehadiran WA grup juga membuat acara berbelanja berjamaah itu terasa lebih menyenangkan (ya gak, buibuk, hehehe).

Sebutan “jastip” ini sejatinya agak kurang tepat untuk menyebut mekanisme transaksi di atas. Jastip lebih tepat mirip kayak personal shopper. Di mana, kita memakai jasa pebelanja (yang datang ke toko dan memilihkan barang), lalu kita transfer duit sesuai harga barang ditambah harga jasa si pebelanja. Makanya disebut jasa titip, maksudnya jasa nitip dibelanjain sama si personal shopper. Berapa besar jasanya? Macam-macam. Ada yang dipatok tetap sekian ribu untuk barang apapun dengan harga berapapun. Ada juga yang memakai sistem persentase harga barang. Jadi, misalnya, si jastiper mematok Rp25.000 untuk setiap item belanjaan. Saat saya beli baju anak merek terkenal sebanyak 4 item dengan total belanja Rp1 juta misalnya, maka saya bayarnya sebanyak Rp1 juta + Rp100 ribu plus biaya ongkir ke personal shopper tersebut.

Tahun 2016 silam, saya sempat menulis profil seorang personal shopper yang cukup populer di kalangan emak-emak, terutama untuk barang-barang fashion bayi dan balita. Tulisan saya bisa dibaca di sini. Kala itu, peluang cuan sebagai personal shopper atau penyedia jastip memang mulai menggeliat. Kehadiran WA grup semakin membuat banyak orang terpincut menggeluti bisnis ini. Bagi konsumen, memakai jasa jastip ini enaknya, kita bisa beli barang-barang oke, umumnya barang branded, dengan harga bersaing. Ga perlu capek keliling mal. Ga ikut pegel berdesakan berebut barang sale, hehehe. Belanja sambil rebahan.

Seiring semakin ramainya WAG, penyedia jasa titip beli alias jastip personal shopper ini akhirnya merambah pula menawarkan barang-barang lain sebagai reseller. Umumnya, ya, barang yang masih terkait kebutuhan rumah tangga dan ibu-ibu kayak baju, hijab, baju anak, mainan, buku, dan lain sebagainya. Nah, penawaran barang kebanyakan masih memakai mekanisme PO. Inilah yang dimanfaatkan oleh oknum jastip tipu-tipu seperti kasus yang sedang meledak saat ini.

Pengalaman saya…

Saya pernah beberapa kali belanja memakai jasa titip beli atau personal shopper. Beli baju anak di akunnya mbak Bianca, beberapa kali. Jastip buku Big Bad Wolf (BBW) yang buku-buku impornya terlalu susah untuk diabaikan, juga beberapa kali ikut. Mainan anak juga pernah. Sedangkan belanja dengan sistem PO, pernah juga tapi hanya 1-2 kali seinget saya. Saya juga pernah iseng open PO buku anak. Jadi, saya open PO sebuah barang dari teman yang juga open PO, hahaha.

Pengalaman belanja lewat jastip saya sejauh ini, hampir tidak ada yang mengenakan uang muka, sih. Jadi, tidak berbeda dengan belanja barang biasa sebenarnya. Kalau via Instagram, ya, saya tinggal nunjuk ingin dibelikan apa saja yang umumnya sudah dipampang di akun jastip tersebut. Kalau barangnya tidak ada, si jastiper akan pergi ke toko untuk mencarikan barang. Kalau barangnya sudah pasti ada, saya tinggal transfer uang belanjaan ditambah fee jastip dan ongkir.

Sedang saat saya belanja dengan sistem PO, saya pernah diminta uang muka, pernah juga tanpa uang muka. Biasanya yang meminta uang muka adalah karena nilai order kita cukup besar. Sedangkan yang tidak meminta uang muka, tak lain karena saya beli cuma dikit dan nominalnya tidak seberapa. Alhamdulillah berjalan mulus semua.

Personally, saya sebenarnya tidak terlalu nyaman belanja dengan sistem PO ini lebih karena saya tipikal pembeli “you get what you pay”. Jadi kalau belanja barang, keluar duit tapi barangnya baru datang beberapa minggu bahkan beberapa bulan di depan, rasanya kurang sabar, hehehe. Makanya saya tergolong jarang ikutan belanja dengan sistem PO ini.

Hati-hati beli barang PO, kenali jastip tepercaya

Prinsip mendasar dalam bertransaksi apakah itu transaksi jual beli langsung atau dengan sistem PO melalui sosok penyedia jasa titip beli, sebenarnya tidak jauh berbeda. Mencari penjual yang komunikatif, yang amanah alias tepercaya, servisnya oke, dan sebagainya, itu hal yang manusiawi. Namun, khusus untuk transaksi dengan sistem PO yang meminta uang muka apalagi meminta pembayaran penuh di depan, wajib banget hukumnya bagi kita agar lebih waspada dan jeli…

1. Kenali sosok penyedia jastip, kantongi identitas

Selama tidak memakai rekening bersama sebagai tempat bertransaksi (rekening bersama misalnya seperti di marketplace -ada pihak ketiga yang menengahi urusan jual beli), kita wajib tahu identitas orang yang kita ajak bertransaksi. Apalagi bila membeli dengan sistem PO, pastikan kita lebih dulu mengantongi informasi tentang sosok “lawan” transaksi kita. Kalau memungkinkan, minta copy identitas diri. Bila sulit sampai kesana, setidaknya kita perlu tahu identitas standar seperti nama asli, alamat rumahnya, dan sebagainya.

Berkaca pada kasus yang lagi heboh itu, ternyata si oknum di pucuk piramida itu identitasnya masih sumir. Kalau sudah bobol, jadi susah meminta pertanggungjawaban, kan…

2. Manfaatkan marketplace untuk bertransaksi

Nah, gimana kalau tahu hanya lewat media sosial? Susah juga, kan, minta identitas begitu? Mau langsung percaya karena follower-nya sudah ribuan? Hmm, bila masih skeptis dan berjaga-jaga agar jangan sampai terkena jebakan betmen, saya dan teman-teman biasanya minta transaksi di marketplace saja. Sekalian memanfaatkan promo dari marketplace, seperti gratis ongkir, cashback, diskon, dan lain-lain. Jadi, si penjual atau pemilik jastip bisa membuat akun barang di marketplace seperti Shopee atau Tokopedia, gitu.. bahkan bila mau sistem PO juga bisa, kok, lewat marketplace.

Dengan memanfaatkan marketplace, kita bisa meminimalisasi risiko gagal transaksi. Karena uang yang kita bayarkan ditampung dulu di rekening bersama di marketplace. Begitu barang sudah di tangan, baru uangnya diterima oleh si penjual. Aman, deh!

3. Skeptislah terhadap apapun yang “too good to be true”

Selalu ingat kata-kata ini: “If it seems to good to be true, it probably is…” Segala hal yang terlalu bagus, terlalu sempurna, terlalu wow, terlalu murah, terlalu enak, biasanya menyimpan hal yang perlu dicurigai, hihi. Ditawari barang dengan harga yang terlalu murah dari harga pasaran… kita tetap perlu kritis bertanya: kok bisa murah?

Kebanyakan pelaku penipuan itu memanfaatkan titik psikologis manusia yang memang memiliki sisi lemah. Kita punya banyak kelemahan sebagai manusia. Bila itu terkait dengan urusan perduitan, sisi lemah kita adalah “greedy”. Kita cenderung serakah: ingin barang bagus tapi maunya harga murah. Maunya banyak tapi enggan keluar banyak, hehe. Serakah. Ya, itulah salah satu sisi lemah kita sebagai manusia. Dengan menyadari sisi itu, kita bisa sedikit kritis ketika menghadapi penawaran-penawaran yang sepertinya too good to be true itu.

Oven yang biasanya harga sejuta lebih, kok bisa ditawarin cuma separo harga? Alasan reject pabrik juga bisa dipertanyakan, se-reject apa kok bisa dijual semurah itu?

Penipuan, apakah itu di ranah barang dapur ataupun di industri keuangan, mirip-mirip polanya. Yaitu, menawarkan produk yang terlalu bagus untuk menjadi produk yang masuk akal dengan memanfaatkan sisi lemah manusia yakni keserakahan.

4. Minta jaminan yang jelas

Membeli barang dengan sistem PO apalagi si penjual meminta full payment di depan, sudah sewajarnya kita sebagai pembeli meminta pula jaminan atau garansi pada si penjual, dong, ya… Pertanyaan yang harus dijawab, kan, gimana kalau pada waktu yang dijanjikan, barangnya tidak juga datang… sedangkan uang sudah dibayarkan? Mending bila itu uang sendiri, kalau uang yang dibayar adalah uang pembeli di bawah kita (karena kita bertindak sebagai reseller), tentu pertanggungjawabannya jadi lebih besar lagi karena menyangkut hak orang lain.

Sepercaya-percayanya kita pada lawan transaksi, bukan hal aneh, kok, kalau kita meminta garansi agar lebih nyaman dalam transaksi tersebut. Jangan naif mendasarkan diri pada rasa percaya saja. Urusan duit itu seringkali orang lupa teman, lupa sahabat, lupa kerabat (lha jadi nyanyi, wkk). Jadi, jangan segan meminta garansi bila sampai terjadi default atau gagal transaksi.

Garansi apa yang bisa diminta? Apa saja yang penting setara berharganya di mana itu bisa mengikat komitmen si penjual tersebut. Bisa berupa sertifikat deposito, BPKB, atau apapun itu yang penting berharga… “Duh, ga enak mba kalau minta garansi sampai segitunya.. kayak ga percaya kesannya…”

Well, better safe than sorry, honey…

Kalau nurutin rasa enggak enak, ya, siap-siap saja menanggung risiko bila sampai terjadi apa-apa. Sekadar mengingatkan, penyesalan itu datang di belakang. Kalau di depan, namanya pendaftaran, wkk.

Jadi, kira-kira itulah yang perlu kita cermati lagi ketika hendak bertransaksi dengan jastip atau bertransaksi dengan sistem PO. Waspada itu perlu tanpa harus paranoid. Karena pada akhirnya, uang kamu, ya, tanggung jawabmu. Kalau sampai tertipu, polisi mungkin bisa membantu mengusut bahkan menangkap si penipu itu. Namun, berharap uang akan benar-benar kembali, itu akan memakan waktu lama bahkan mungkin mustahil mengingat duit udah digarong si penipu… jadi siap-siapa aja kalau ujungnya “Sudahlah, ikhlaskan saja…”

Leave a Reply

Your email address will not be published.