Dana Darurat, Asuransi atau Investasi: Mana yang Lebih Penting?

Sebagian orang masih sering bingung menentukan mana dulu yang lebih penting antara dana darurat, asuransi atau investasi. Semuanya penting tapi perhatikan urutan prioritasnya, ya.

Pertanyaan itu sering muncul di tengah obrolan santai tentang pengelolaan keuangan pribadi. Biasanya didahului semacam kegalauan begini, nih: “Eh, lo investasinya udah banyak ya… gw belum punya apa-apa ini… asuransi juga ga ada..” atau begini: “Duh, gw investasinya masih cemen ini, baru beli emas doang…” endesbre, endesbre.

Selalu seru memang berbicara tentang pengelolaan keuangan pribadi.

Mungkin kamu termasuk yang pernah galau dengan pertanyaan itu. Mana yang lebih penting antara dana darurat (emergency fund), asuransi atau investasi?

Jawabannya: semuanya penting!

Nah, lho. Haha.

Tapi, itulah jawaban yang sesungguhnya. Semuanya penting. Cuma, masing-masing ada urutan dan kondisi yang membuatnya lebih penting daripada yang lain. Mari mengurutkan satu per satu.

1. Dana Darurat

Dana darurat, ya, sesuai namanya. Yakni, dana yang perlu kita siapkan untuk mengantisipasi kondisi-kondisi darurat. Misalnya, ketika tiba-tiba terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK), ketika mendadak butuh dana untuk menutup -amit-amit- musibah, dan segala hal bersifat tak terduga dan darurat.

Dalam urutan pengelolaan keuangan pribadi yang baik, dana darurat adalah yang paling penting untuk disiapkan ketimbang asuransi dan investasi.

Berapa nilai dana darurat yang ideal?

Bila mengacu pada saran para perencana keuangan, maka nilai dana darurat disesuaikan dengan status kita. Bila kamu masih lajang, maka nilai dana darurat yang ideal adalah tiga kali besar pegeluaran rutin bulanan kamu. Misalnya, gaji kamu sekarang Rp 5 juta dengan jumlah pengeluaran rutin bulanan sekitar Rp 4 juta. Maka, besar dana darurat ideal yang perlu kamu miliki adalah sebesar Rp 12 juta.

Nilai dana darurat ideal untuk kamu yang statusnya sudah menikah atau yang berstatus menikah dengan anak, juga berbeda-beda. Bila sudah menikah, idealnya adalah 6 kali pengeluaran rutin bulanan. Sedang untuk status menikah dengan anak satu, disarankan kurang lebih 9 kali pengeluaran rutin bulanan.

Mungkin kamu bertanya-tanya, apa, sih, landasan angka 3, 6 dan 9, dan seterusnya itu? Angka itu berasal dari asumsi waktu yang kamu butuhkan untuk mendapatkan pekerjaan baru bila kondisi darurat yang terjadi adalah PHK. Dana itu diasumsikan mampu menutup semua kebutuhan rutin seperti beban cicilan utang, kebutuhan sehari-hari (makan, transportasi), dan lain-lain, kendati tidak ada pemasukan. Sampai akhirnya kamu mendapatkan pekerjaan baru.

Tapi, apakah kita benar-benar harus mengikuti angka ideal itu? Ya, idealnya seperti itu. Tergantung kemampuan kita juga dalam mengumpulkan dana darurat. Kalau bisa ideal, ya, syukur. Kalau enggak bisa, ya diusahakan sedikit demi sedikit agar bisa ideal. Hahahaha.

Dana darurat menjadi fokus utama yang perlu kamu perhatikan sebelum memikirkan hal lain seperti asuransi atau investasi.

Di mana menempatkan dana darurat yang tepat? Pada dasarnya kamu bisa menyimpannya di produk yang likuid atau yang mudah kamu uangkan manakalah sewaktu-waktu butuh dana segar. Contohnya, deposito bank, emas batangan, emas perhiasan, rekening bank biasa, dan lain sebagainya.

Kalau saya pribadi, menyebarnya ke tiga tempat, yaitu deposito dan emas batangan. Keduanya mudah diuangkan bila sewaktu-waktu saya butuh dana segera. Dulu ada juga yang saya tempatkan di reksadana pasar uang, tapi akhirnya saya pindahkan saat kinerjanya tidak lebih baik dari deposito.

Saya merasakan pentingnya memiliki dana darurat ini ketika tiba-tiba anak kedua saya harus masuk NICU pasca kelahiran yang penuh drama. Emas bisa dengan mudah saya gadaikan. Deposito online bisa saya cairkan cukup dengan akses internet banking. Alhamdulillah, akhirnya biaya NICU anak kedua saya bisa ditutup dengan BPJS Kesehatan. Jadi, dana-dana yang sudah saya cairkan ga jadi kepake. Balikin lagi deh ke tempat semula.

Menurut saya, penting sekali memiliki dana darurat supaya kita tidak mudah terjebak utang ketika mendadak butuh dana segar. Lalu, bagaimana cara menyisihkan?

“Duh, aku kan penghasilannya ga banyak.. mana bisa punya dana darurat segala?”

Keluhan kayak gini sering terdengar 🙂

Saya enggak setuju bila dana darurat baru bisa dikumpulkanoleh mereka yang penghasilannya berlebih.

Siapapun bisa dan memang seharusnya memiliki dana darurat. Tapi, bagaimana caranya? Ini akan balik lagi pada cara kita mengelola penghasilan. Kalau kita terbiasa membagi penghasilan ke dalam tiga bagian utama, maka pasti kita bisa menyusun dana darurat.

Tiga bagian utama pembagian penghasilan adalah: 30% untuk membayar beban cicilan utang (bila ada), 20% untuk disisihkan sebagai tabungan/simpanan/dana darurat, dan sisanya yaitu 50%-60% untuk biaya hidup sehari-hari. Cukup enggak cukup ya segitu jatahnya. Banyak orang menyerah di bagian 50% biaya hidup sehari-hari.

Mereka yang sering mengeluh tidak memiliki tabungan, acapkali karena terlalu lemah memaksa diri menerapkan prinsip hidup sesuai kemampuan.Lebih banyak yang terjerat jebakan gaya hidup. Akhirnya 100% penghasilan digunakan untuk biaya hidup sehari-hari yang celakanya lebih banyak menuruti tuntutan gaya hidup 🙂

Banyak saya temui orang yang dengan bangga memakai sepatu atau baju bermerek, pakai lipstik mahal, punya gadget mewah, dan sebagainya; tapi pas diajakin nabung susah bener, hehe. Trus, dikit-dikit ngandelin kartu kredit 🙂 Mending kalau kartu kredit diperlakukan sebagai alat transaksi nontunai semata, ini dipake lebih banyak buat belanja ini itu dan bahkan untuk transaksi tarik tunai alias utang (yang mahal banget itu), trus bayar tagihannya ga pernah full pula, hehe. Hidup jadi maksa, deh. Maksa bergaya hidup, LoL. Moga kita ga termasuk yang begini, ya 🙂

2. Asuransi

 

Nah, setelah dana darurat sudah kita miliki, saatnya memikirkan asuransi. Orang Indonesia sejauh ini sepertinya memang masih belum juga akrab dengan bobot penting berasuransi. Asuransi dianggap buang-buang uang saja 🙂

Padahal ya, tergantung juga dari mana kita melihatnya. Bila kamu posisinya saat ini sebagai kepala keluarga atau banyak kehidupan yang kamu tanggung, memiliki asuransi bisa menjadi salah satu strategi pengelolaan risiko finansial yang murah!

Maksudnya begini, taruhlah sekarang kamu adalah kepala keluarga dengan seorang istri dan anak. Anak kamu kini berusia 4 tahun. Nah, sekarang saat kamu sehat walafiat dengan penghasilan yang kamu miliki, tentu baik-baik saja semuanya. Anak kamu bisa bersekolah, makan tiga kali sehari dengan menu sehat, istri juga demikian. Normal dan baik-baik semua. Nah, terbayangkah saat mendadak kamu mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kamu cacat dan tidak mampu bekerja lagi, atau tba-tiba kamu meninggal dunia…

Well, semua yang bernyawa pasti merasakan mati. Yup, kematian adalah hal yang tak terelakkan. Kita semua pasti mati, cuma kita enggak tahu kapan itu akan terjadi. Efek pada keluarga yang ditinggalkan atau yang selama ini kehidupannya kamu tanggung, tentu tidak kecil. Karena tidak ada lagi penghasilan, bagaimana nasib sekolah anak? Bagaimana nasib istri dan keluarga yang jadi tanggungan, biaya hidup mereka sehari-hari, siapa yang menanggung?

Nah, dengan berasuransi, dalam hal ini asuransi jiwa, kamu bisa meminimalkan risiko yang timbul dari sisi finansial ketika mendadak kamu harus pergi meninggalkan keluarga kamu selama-lamanya. Mekanismenya, risiko finansial yang terjadi saat ada kejadian tak terelakkan, kita alihkan pada pihak ketiga yaitu perusahaan asuransi. Jadi, saat si kepala keluarga (selaku tertanggung) meninggal dunia, akan keluar sejumlah uang pertanggungan yang akan diberikan pada si ahli waris. Uang pertanggungan itulah yang akan menjadi bekal keluarga yang ditinggalkan untuk melanjutkan hidup…

Berapa kebutuhan uang pertanggungan? Bagaimana cara menghitung kebutuhan uang pertanggungan? Bagaimana memilih produk asuransi yang tepat? Mengapa lebih tepat asuransi jiwa murni (term life)ketimbang asuransi jenis lain (whole lifeinsurance, unitlinked,dst). Dan dalam kondisi seperti apa seseorang sebenarnya tidak perlu memiliki asuransi? Itu akan saya bahas di tulisan yang lain 🙂

Yang pasti, bila memang secara finansial kamu membutuhkan asuransi, pastikan beban pembayaran premi asuransi tidak melebihi 10% dari total penghasilan rutin. Ini untuk menghindari pula kondisi overinsurance.

3. Investasi

Setelah dana darurat aman dan memiliki asuransi sesuai kebutuhan, baru deh mikir investasi 🙂 Untuk berinvestasi, ada beberapa hal yang perlu kamu pertimbangkan:

  1. Tujuan keuangan.Apa, sih, tujuan keuangan kamu? Apakah untuk mengumpulkan dana pendidikan anak? Atau, dana pensiun kelak? Tujuan keuangan ini penting supaya langkah investasi yang kamu lakukan memiliki tujuan jelas, target yang terukur.
  2. Profil risiko.Ketahui apa profil risiko kamu sebagai investor. Apakah konservatif, moderat atau agresif? Kamu bisa mengukurnya dengan menjawab beberapa pertanyaan penting seputar finansial. Mengetahui profil risiko ini penting karena akan sangat memengaruhi pilihan strategi investasi yang tepat dan produk investasi yang paling cocok untuk membantu pencapaian tujuan keuangan.
  3. Produk investasi.Ada banyak pilihan produk investasi yang bisa kita pilih. Mulai dari kelompok logam mulia (emas batangan, perhiasan, logam mulia lain), kelompok investasi portofolio (reksadana, saham, obligasi, dsb), investasi riil (properti rumah, tanah, ruko, dsb), investasi lain-lain (menjadi investor di sebuah bisnis riil/usaha).

Kita akan bahas lebih jauh serba serbi investasi di tulisan yang lain, ya.

Nah, sekarang udah jelas, manakah yang lebih penting dari “dana darurat, asuransi atau investasi”. Dengan menempatkan kepentingan sesuai bobotnya, ikhtiar kita memiliki keuangan yang selalu sehat bisa lebih mudah kita lakukan.

Chayo!

~Nyonya Cendana

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *