AsuransiBedah Produk

#BedahProduk: Asuransi Jiwa Flexi Life dari Astra Life #ReviewRuisa

Flexi Life Astra

Memilih asuransi jiwa yang sesuai kebutuhan dan kekuatan kantong, butuh kejelian tersendiri. Bingung memilih? Ikuti #SeriReview asuransi jiwa terbaik bagian 1 ini, ya!

Dari sekian banyak pertanyaan dan konsultasi yang masuk ke inbox saya, nyaris 60% menanyakan tentang asuransi jiwa, haha. Memilih produk asuransi jiwa yang tepat memang gampang-gampang susah. Gampang karena zaman sekarang informasi sejatinya bisa dengan mudah kita dapatkan di website provider atau perusahaan asuransi, atau bisa langsung menanyakan ke customer service bahkan langsung ke agen asuransi terkait. Cuma, walau informasi sudah berlimpah, nyatanya untuk menentukan pilihan di sebuah produk asuransi jiwa terbaik, itu juga bukan hal gampang. Ya, bisa dimaklumi, asuransi termasuk produk finansial yang membutuhkan komitmen panjang… kecuali asuransi perjalanan saat naik pesawat, asuransi jiwa kebanyakan memang kontrak jangka panjang. Jadi, bila sampai salah pilih, rasanya, kok, KZL, haha.

Ehem. Kembali ke laptop!

Khusus asuransi jiwa terbaik atau term life, harus diakui bahwa produk ini tidak sepopuler produk asuransi dengan embel-embel tabungan atau investasi kayak endowment fund atau unitlink. Mengapa? Ini ga lepas dari salah kaprah banyak orang memandang asuransi. Asuransi dianggap kayak buang-buang duit. Akhirnya, pas mau pilih asuransi maunya yang bisa kasi keuntungan… padahal asuransi itu bukan produk investasi, lho… hehehe.

Tentang jenis dan karakteristik masing-masing asuransi jiwa, saya udah pernah nulis di sini. Bila masih ingin tahu mengapa kita perlu asuransi, kamu bisa baca di sini. Juga, bagaimana cara hitung kebutuhan uang pertanggungan asuransi jiwa, bisa kamu baca di sini. Wes luengkap, gratis maneh, kurang opo, rek, hahaha. Silakan dibaca agar semakin jelas memahami asuransi, ya 🙂

Nah, biar bisa membantu teman-teman yang masih galau memutuskan, saya coba membantu membuat review beberapa produk-produk asuransi jiwa yang ada di pasar dengan hestek #ReviewRuisa. Ini adalah tulisan seri pertama!

Disclaimer: posting ini bukan endorse dan saya bukanlah agen asuransi, ya. Review-nya saya coba tulis seobyektif mungkin. Keputusan akhir tetap di tangan masing-masing ketika hendak memilih produk asuransi jiwa yang paling tepat 🙂

Asuransi Jiwa Astra Life: Flexi Life

source image: di sini

Perusahaan asuransi grup Astra ini baru merilis asuransi jiwa murni alias term life sekitar tahun 2018-2019 silam, dengan nama Flexi Life. Sesuai namanya, asuransi ini menonjolkan kemudahan alias fleksibilitas dalam menentukan asuransi jiwa yang kita butuhkan sesuai kondisi kita saat ini. Kamu bisa menentukan besar premi dan Uang Pertanggungan (UP) sendiri, sesuai kondisi kamu. Fleksibilitas ini dimungkinkan karena Flexi Life ini memberikan proteksi per tahun, bukan kontrak jangka panjang seperti asuransi jiwa pada umumnya.

Seperti mungkin sudah kamu tahu, asuransi jiwa umumnya memberikan pilihan jangka waktu perlindungan serta merta panjang mulai 10 tahun hingga 20 tahun. Dengan masa perlindungan yang hanya setahun itu, Flexi Life memungkinkan nasabahnya memiliki asuransi jiwa dengan premi murah. Namun, produk ini bisa diperpanjang proteksinya setiap tahun oleh pemilik polis hingga usia 85 tahun atau sesuai kebutuhan masing-masing. Karena masa proteksi yang dibikin per tahun itu juga yang memungkinkan pemilik polis mengubah besar premi atau UP sesuai kondisi dan kebutuhan kamu saat ini.

Misal, pas lagi punya duit banyak dan mampu beli (bayar premi asuransi) cukup besar, ya, ia bisa memilih UP besar. Namun, apabila kelak saat waktunya perpanjangan ternyata pas lagi bokek dan kemampuan bayar premi menurun, UP-nya juga bisa diturunkan supaya beban preminya juga ikut menurun. Begitu juga sebaliknya.

Masih bingung dengan penjelasan ini? Haha. Baiklah. Saya coba pake ilustrasi, ya.

Bapak A berusia 35 tahun dan membutuhkan asuransi jiwa. Budget premi yang ia miliki sekitar Rp500.000-an per bulan. Dengan Flexi Life, ia bisa mendapatkan asuransi jiwa dengan nilai UP hingga Rp1,7 miliar, cukup dengan premi Rp528.700 per bulan. Bila di tahun depan, Bapak A pendapatannya makin banyak dan dia mampu bayar premi, anggaplah sampai Rp1 juta, misalnya. Ya, dia bisa naikin alias upgrade UP Flexi Life-nya. Memakai simulasi yang tersedia di website Flexi Life, untuk UP sebesar Rp3 miliar, Bapak A yang usianya kini udah bertambah jadi 36 tahun, dikenakan premi Rp972.000 per bulan.

Pro’s Flexi Life

  • Kamu bisa punya asuransi jiwa sesuai kemampuan membayar premi asuransi. Tidak perlu jiper enggak mampu bayar premi karena toh kamu tinggal sesuaikan kemampuan kantong. Misalnya, baru bisa bayar premi Rp500.000 per bulan saat ini, ya, udah berarti harus terima juga dapet UP yang sesuai dengan premi sebesar itu. Kelak saat kemampuan pembayaran premi kamu naik, kamu bisa menaikkan UP sehingga proteksinya makin besar sesuai kebutuhan.
  • Karena proteksinya per tahun, beban premi otomatis bisa lebih ringan. Why? Ya, karena ia tidak menghitung inflasi jangka panjang. Ini cocok bagi kamu yang mencari asuransi jiwa premi terjangkau dengan UP lumayan besar. Premi yang kamu bayarkan saat ini bisa fokus membiayai proteksi selama setahun itu saja. Hanya, ini juga nanti memiliki konsekuensi lain yang bisa jadi “kekurangan”.
  • Katanya, sih, perlindungan tahunan yang diberikan itu udah dilengkapi dengan fitur auto renew alias otomatis diperpanjang tanpa perlu daftar ulang lagi lagi. Cuma, ini belum jelas betul apakah perpanjangan otomatisnya pake syarat UP tetap atau gimana… atau, kalau setahun kemarin si tertanggung sempat sakit cukup berat, apa bener ga pake cek medis lagi dan pengajuan polis perpanjangan otomatis disetujui? Untuk lebih jelas, kamu bisa tanya langsung ke agennya, ya.
  • Uang Pertanggungan lumayan besar bisa sampai Rp5 miliar tanpa cek medis bila usia Tertanggung (orang yang diasuransikan) maksimal 45 tahun kala diasuransikan.
  • Proteksi diberikan selama 1 tahun atau sampai Tertanggung mencapai usia 85 tahun. Masa bayar premi akan mengikuti masa pertanggungan tersebut.
  • Pengurusan, mulai pembelian sampai klaim bisa dilakukan serba online. Bagi kaum mager, ini tentu kabar menyenangkan, haha.
  • Menanggung risiko meninggal dunia akibat sakit dan kecelakaan, termasuk kematian karena infeksi Covid-19.
  • Sampai tulisan ini sedang saya buat, per 22 Juni 2021, masih ada promo, bayar premi setahun sekaligus akan diberikan diskon 2 bulan. So, pemegang polis cukup bayar 10 bulan.

Con’s Flexi Life

Premi Flexi Life naik terus tiap tahun. Ini konsekuensi yang saya maksud tadi. Flexi Life menentukan besar premi berdasarkan proteksi per tahun, alhasil setiap kali memperpanjang proteksi di tahun mendatang, otomatis besar premi yang harus kamu bayar menjadi naik. Iya, dong, usia kamu sebagai tertanggung, kan, juga nambah sehingga risiko yang ditanggung pihak asuransi otomatis naik. Jadi, wajar bila premi ikut naik. Apabila kebutuhan asuransi jiwa kamu adalah sampai anak bisa mandiri yang itu baru terjadi, anggaplah 20 tahun lagi, maka kamu harus siap membayar kenaikan premi setiap tahun sampai 20 tahun itu.

Bagi kamu yang lebih suka hal-hal yang stabil dan flat price, ini mungkin agak kurang nyaman karena kudu siap saat premi naik yang entah berapa kenaikannya nanti. Dasar penghitungan kenaikannya juga kita gatau. Kalau bunga KPR, kan, at least kita tahu basic-nya adalah suku bunga Bank Indonesia. Jadi, ngadepin premi yang floating gini, emang jadi mirip-mirip kayak menghadapi masa floating rate KPR, heheh. Tapiii, inget juga, dengan Flexi Life kasi harga premi per tahun itu, premi kamu jadi lebih ekonomis dibanding asuransi jiwa term life yang flat price dengan kontrak jangka panjang (premi flat price untuk polis asuransi jangka panjang udah memasukkan variabel inflasi selama masa kontrak tersebut, makanya lebih mahal jatuhnya).

Trus, gimana bila saat perpanjangan, nasabah sedang tidak punya dana untuk bayar premi lagi? Ya berarti ada risiko perlindungannya terhenti. Umumnya asuransi memiliki masa tenggang pembayaran premi (grace period) selama 45 hari sejak jatuh tempo. Bila melewati tenggang waktu tersebut premi tak jua dibayar, otomatis polisnya batal (lapsed).

Selain itu, yang juga jadi “kekurangan” produk ini adalah, sejauh yang saya amati, adalah ketiadaan rider alias asuransi tambahan waiver of premium. Produk asuransi jiwa pada umumnya bisa ditambahkan manfaat tambahan waiver of premium ini. Rider ini memberi manfaat pembebasan premi apabila Tertanggung mengalami cacat total atau cacat tetap. Asuransi tambahan berupa asuransi kesehatan juga tidak tersedia untuk produk ini.

Kekurangan lain adalah, bila kamu membeli asuransi ini kala usia sudah di atas 45 tahun, besar UP yang bisa diberikan maksimal Rp2 miliar saja. Begitu juga bila asuransi dibeli kala usia Tertanggung sudah di atas 55 tahun, maka UP-nya dibatasi maksimal Rp1 miliar. Ini wajar, sih. Di mana-mana asuransi jiwa, ya, memang sensitif terhadap usia Tertanggung mengingat hitungan risiko yang harus ia tanggung nanti. Pesan moralnya, semakin awal kamu beli asuransi jiwa, kala usia masih di bawah 45 tahun, kamu berkesempatan mendapat polis dengan UP besar dan premi yang relatif lebih murah.

Itulah #ReviewRuisa kali ini tentang asuransi jiwa. Di tulisan berikutnya, saya akan mencoba me-review produk asuransi jiwa dan produk finansial lain yang ada di pasar. Jadi, tunggu aja yahhh!

Butuh konsultasi personal? Silakan tinggalkan pesan di

  • Email ruisa.khoiriyah@gmail.com
  • Fanpage FB RuisaKhoiriyah.com
  • Instagram @mayruisa

“Our Money, Our Responsibility”

With Love,

RK

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *